AgendaFeminis. Liberal. Kebarat-baratan. Tidak tahu batas. Tuduhan terhadap Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) seakan tak berujung. Sulit untuk meyakinkan bahwa
Halini tentu saja memengaruhi pola dan perilaku masyarakatnya. Berikut ini hal-hal positif atau bentuk kemajuan akibat adanya perubahan sosial budaya. 1. Memunculkan ide-ide budaya baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. 2. Membentuk pola pikir masyarakat yang lebih ilmiah dan rasional. 3.
Adil berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender. Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.
Dalamkonteks ini Indonesia bisa memainkan perannya bersama-sama dengan negara-negara lain di dunia untuk mengatasi masalah kejahatan internet. Upaya penanggulangan kejahatan cyberporn ini agar dapat dilakukan secara menyeluruh maka tidak hanya pendekatan yuridis atau penal yang dilakukan, tetapi dapat juga dilakukan dengan pendekatan non-penal.
Karyamonumentalnya adalah Al-Muqadimmah (1284 H) yang secara orisinal dan luas membahas kajian sejarah, budaya, dan sosial. b) Teori Daur Kultural Spiral Giambattista Vico. , pendekatan terhadap masa silam yang menggunakan teori-teori ilmu sosial hanya dapat digunakan sejauh dapat diandalkan. Kesahihan teori-teori sosial sering disanksikan
Ataubisadikatakan makna yang luhur, tidak memandang agama maupun yang lainnya. Sehingga, keantengan dalam berbudaya sangat indah dalam mata masyarakat. Sebuah kebiasaan yang lahir dari individu dan masyarakat dapat membentuk tatanan kelakuan. Tatanan kelakukan yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi budaya.
7sEi. Main Article Content Abstract Tujuan penelitian ini berfokus pada konseling agama dengan menggunakan pendekatan budaya dalam membentuk resiliensi remaja. Konseling dapat dicirikan sebagai cara yang paling umum untuk memberikan bantuan kepada klien oleh seorang konselor dengan hubungan yang bersifat individu ke individu, meskipun mempengaruhi lebih dari satu individu. Penelitian ini menggunakan jenis/metode penelitian berupa studi kepustakaan Library Research yang memiliki relavansi mengenai konseling agama pendekatan budaya dalam membentuk resiliensi remaja. Tujuan konseling budaya memiliki beberapa tindakan dalam konseling yaitu pertama, konseling dapat membuat konselor peka terhadap masalah lingkungan yang mempengaruhi perkembangan manusia. Kedua, profesi konseling mengharuskan konselor memiliki pengetehuan dan keterampilan. Konseling agama merupakan bantuan dari konselor untuk membantu klien membangkitkan ajaran agamanya untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup yang dihadapi dengan cara-cara yang dibenarkan menurut agama dan keyakinannya. Keywords Konseling Agama Budaya Resiliensi Ramaja Article Details License Authors who publish in this journal agree with the following termsAuthors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike CC BY-SA that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work post it to an institutional repository or publish it in a book, with an acknowledgement of its initial publication in this are permitted and encouraged to post their work online in institutional repositories or on their website prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work See The Effect of Open Access.This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike International License. How to Cite NELISMA, Y., Fitriani, W., & Silvianetri, S. 2022. Konseling Agama Dengan Pendekatan Budaya Dalam Membentuk Resiliensi Remaja. Consilia Jurnal Ilmiah Bimbingan Dan Konseling, 51, 66–76. References Awad, F. B. 2015. KonselingIslam dalamMasyarakat Multikultural. Zawiyah Jurnal Pemikiran Islam. Desmita, D. 2009. MENGEMBANGKAN RESILIENSI REMAJA DALAM UPAYA MENGATASI STRES SEKOLAH. Ta’dib. Farikhatul ’Ubudiyah. 2020. Konseling Melalui Meditasi Lintas Agama di Vihara Karangdjati Yogyakarta. Al-Irsyad Jurnal Bimbingan Konseling Islam. Firman. 2017. Peran Antropologi dalam Konseling Lintas Budaya di Era Masyarakat Ekonomi Asean MEA. Prosiding Seminar Konseling 2017 Profesi Konseling Menuju Masyarakat Ekonomi Asean. Ganesan. 2016. Akhbar Tamil Nesan dan peranannya dalam perkembangan pendidikan Tamil di Tanah Melayu. Jurnal Penyelidikan Dedikasi. Hermansyah, M. T., & Hadjam, M. R. 2020. RESILIENSI PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA STUDI LITERATUR. MOTIVA JURNAL PSIKOLOGI. Irman, I., Murisal, M., Syafwar, F., Silvianetri, S., Zubaidah, Z., & Yeni, P. 2020. Membangun Kesadaran Spritual melalui Konseling Berbasis Surau dalam Pengembangan Pariwisata. Islamic Counseling Jurnal Bimbingan Konseling Islam. Mahfuz, A. G. 2019. Hubungan Agama dan Budaya. Sosial Keagamaan Dan Pendidikan Islam. Mirnawati 2016. Simbol Mitologi Dalam Karya Sastra Teks Al-Barzanji; Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Pasal 4. Jurnal Diskursus Islam UIN Alauddin Makasar. Nashihin, H. 2017. Pengertian Budaya. Konstruksi Budaya Sekolah Sebagai Wadah Internalisasi Nilai Karakter. Resiliensi pada Remaja Jawa. 2015. Jurnal Psikologi UGM. Rofiqi, M. A. 2019. RELEVANSI AGAMA DAN SPIRITUAL DALAM KONSELING. JCOSE Jurnal Bimbingan Dan Konseling. Sunarti, E., Islamia, I., Rochimah, N., & Ulfa, M. 2017. Pengaruh Faktor Ekologi Terhadap Resiliensi Remaja. Jurnal Ilmu Keluarga Dan Konsumen. Sunarti, E., Islamia, I., Rochimah, N., & Ulfa, M. 2018. Resiliensi Remaja Perbedaan Berdasarkan Wilayah, Kemiskinan, Jenis Kelamin, dan Jenis Sekolah. Jurnal Ilmu Keluarga Dan Konsumen. Supriatna, E. 2019. Islam dan Kebudayaan. Jurnal Soshum Insentif. Thabroni, G. 2020. Pengertian Budaya, Unsur, Wujud & Fungsi Menurut Para k. Wati, W., & Silvianetri, S. 2018. PENGARUH KONSELING ISLAM DALAM MENINGKATKAN KESADARAN SHOLAT BERJAMAAH SISWA. Alfuad Jurnal Sosial Keagamaan. Awad, F. B. 2015. KonselingIslam dalamMasyarakat Multikultural. Zawiyah Jurnal Pemikiran Islam. Desmita, D. 2009. MENGEMBANGKAN RESILIENSI REMAJA DALAM UPAYA MENGATASI STRES SEKOLAH. Ta’dib. Farikhatul ’Ubudiyah. 2020. Konseling Melalui Meditasi Lintas Agama di Vihara Karangdjati Yogyakarta. Al-Irsyad Jurnal Bimbingan Konseling Islam. Firman. 2017. Peran Antropologi dalam Konseling Lintas Budaya di Era Masyarakat Ekonomi Asean MEA. Prosiding Seminar Konseling 2017 Profesi Konseling Menuju Masyarakat Ekonomi Asean. Ganesan. 2016. Akhbar Tamil Nesan dan peranannya dalam perkembangan pendidikan Tamil di Tanah Melayu. Jurnal Penyelidikan Dedikasi. Hermansyah, M. T., & Hadjam, M. R. 2020. RESILIENSI PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA STUDI LITERATUR. MOTIVA JURNAL PSIKOLOGI. Irman, I., Murisal, M., Syafwar, F., Silvianetri, S., Zubaidah, Z., & Yeni, P. 2020. Membangun Kesadaran Spritual melalui Konseling Berbasis Surau dalam Pengembangan Pariwisata. Islamic Counseling Jurnal Bimbingan Konseling Islam. Mahfuz, A. G. 2019. Hubungan Agama dan Budaya. Sosial Keagamaan Dan Pendidikan Islam. Mirnawati 2016. Simbol Mitologi Dalam Karya Sastra Teks Al-Barzanji; Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Pasal 4. Jurnal Diskursus Islam UIN Alauddin Makasar. Nashihin, H. 2017. Pengertian Budaya. Konstruksi Budaya Sekolah Sebagai Wadah Internalisasi Nilai Karakter. Resiliensi pada Remaja Jawa. 2015. Jurnal Psikologi UGM. Rofiqi, M. A. 2019. RELEVANSI AGAMA DAN SPIRITUAL DALAM KONSELING. JCOSE Jurnal Bimbingan Dan Konseling. Sunarti, E., Islamia, I., Rochimah, N., & Ulfa, M. 2017. Pengaruh Faktor Ekologi Terhadap Resiliensi Remaja. Jurnal Ilmu Keluarga Dan Konsumen. Sunarti, E., Islamia, I., Rochimah, N., & Ulfa, M. 2018. Resiliensi Remaja Perbedaan Berdasarkan Wilayah, Kemiskinan, Jenis Kelamin, dan Jenis Sekolah. Jurnal Ilmu Keluarga Dan Konsumen. Supriatna, E. 2019. Islam dan Kebudayaan. Jurnal Soshum Insentif. Thabroni, G. 2020. Pengertian Budaya, Unsur, Wujud & Fungsi Menurut Para k. Wati, W., & Silvianetri, S. 2018. PENGARUH KONSELING ISLAM DALAM MENINGKATKAN KESADARAN SHOLAT BERJAMAAH SISWA. Alfuad Jurnal Sosial Keagamaan. References Awad, F. B. 2015. KonselingIslam dalamMasyarakat Multikultural. Zawiyah Jurnal Pemikiran Islam. Desmita, D. 2009. MENGEMBANGKAN RESILIENSI REMAJA DALAM UPAYA MENGATASI STRES SEKOLAH. Ta’dib. Farikhatul ’Ubudiyah. 2020. Konseling Melalui Meditasi Lintas Agama di Vihara Karangdjati Yogyakarta. Al-Irsyad Jurnal Bimbingan Konseling Islam. Firman. 2017. Peran Antropologi dalam Konseling Lintas Budaya di Era Masyarakat Ekonomi Asean MEA. Prosiding Seminar Konseling 2017 Profesi Konseling Menuju Masyarakat Ekonomi Asean. Ganesan. 2016. Akhbar Tamil Nesan dan peranannya dalam perkembangan pendidikan Tamil di Tanah Melayu. Jurnal Penyelidikan Dedikasi. Hermansyah, M. T., & Hadjam, M. R. 2020. RESILIENSI PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA STUDI LITERATUR. MOTIVA JURNAL PSIKOLOGI. Irman, I., Murisal, M., Syafwar, F., Silvianetri, S., Zubaidah, Z., & Yeni, P. 2020. Membangun Kesadaran Spritual melalui Konseling Berbasis Surau dalam Pengembangan Pariwisata. Islamic Counseling Jurnal Bimbingan Konseling Islam. Mahfuz, A. G. 2019. Hubungan Agama dan Budaya. Sosial Keagamaan Dan Pendidikan Islam. Mirnawati 2016. Simbol Mitologi Dalam Karya Sastra Teks Al-Barzanji; Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Pasal 4. Jurnal Diskursus Islam UIN Alauddin Makasar. Nashihin, H. 2017. Pengertian Budaya. Konstruksi Budaya Sekolah Sebagai Wadah Internalisasi Nilai Karakter. Resiliensi pada Remaja Jawa. 2015. Jurnal Psikologi UGM. Rofiqi, M. A. 2019. RELEVANSI AGAMA DAN SPIRITUAL DALAM KONSELING. JCOSE Jurnal Bimbingan Dan Konseling. Sunarti, E., Islamia, I., Rochimah, N., & Ulfa, M. 2017. Pengaruh Faktor Ekologi Terhadap Resiliensi Remaja. Jurnal Ilmu Keluarga Dan Konsumen. Sunarti, E., Islamia, I., Rochimah, N., & Ulfa, M. 2018. Resiliensi Remaja Perbedaan Berdasarkan Wilayah, Kemiskinan, Jenis Kelamin, dan Jenis Sekolah. Jurnal Ilmu Keluarga Dan Konsumen. Supriatna, E. 2019. Islam dan Kebudayaan. Jurnal Soshum Insentif. Thabroni, G. 2020. Pengertian Budaya, Unsur, Wujud & Fungsi Menurut Para k. Wati, W., & Silvianetri, S. 2018. PENGARUH KONSELING ISLAM DALAM MENINGKATKAN KESADARAN SHOLAT BERJAMAAH SISWA. Alfuad Jurnal Sosial Keagamaan. Awad, F. B. 2015. KonselingIslam dalamMasyarakat Multikultural. Zawiyah Jurnal Pemikiran Islam. Desmita, D. 2009. MENGEMBANGKAN RESILIENSI REMAJA DALAM UPAYA MENGATASI STRES SEKOLAH. Ta’dib. Farikhatul ’Ubudiyah. 2020. Konseling Melalui Meditasi Lintas Agama di Vihara Karangdjati Yogyakarta. Al-Irsyad Jurnal Bimbingan Konseling Islam. Firman. 2017. Peran Antropologi dalam Konseling Lintas Budaya di Era Masyarakat Ekonomi Asean MEA. Prosiding Seminar Konseling 2017 Profesi Konseling Menuju Masyarakat Ekonomi Asean. Ganesan. 2016. Akhbar Tamil Nesan dan peranannya dalam perkembangan pendidikan Tamil di Tanah Melayu. Jurnal Penyelidikan Dedikasi. Hermansyah, M. T., & Hadjam, M. R. 2020. RESILIENSI PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA STUDI LITERATUR. MOTIVA JURNAL PSIKOLOGI. Irman, I., Murisal, M., Syafwar, F., Silvianetri, S., Zubaidah, Z., & Yeni, P. 2020. Membangun Kesadaran Spritual melalui Konseling Berbasis Surau dalam Pengembangan Pariwisata. Islamic Counseling Jurnal Bimbingan Konseling Islam. Mahfuz, A. G. 2019. Hubungan Agama dan Budaya. Sosial Keagamaan Dan Pendidikan Islam. Mirnawati 2016. Simbol Mitologi Dalam Karya Sastra Teks Al-Barzanji; Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Pasal 4. Jurnal Diskursus Islam UIN Alauddin Makasar. Nashihin, H. 2017. Pengertian Budaya. Konstruksi Budaya Sekolah Sebagai Wadah Internalisasi Nilai Karakter. Resiliensi pada Remaja Jawa. 2015. Jurnal Psikologi UGM. Rofiqi, M. A. 2019. RELEVANSI AGAMA DAN SPIRITUAL DALAM KONSELING. JCOSE Jurnal Bimbingan Dan Konseling. Sunarti, E., Islamia, I., Rochimah, N., & Ulfa, M. 2017. Pengaruh Faktor Ekologi Terhadap Resiliensi Remaja. Jurnal Ilmu Keluarga Dan Konsumen. Sunarti, E., Islamia, I., Rochimah, N., & Ulfa, M. 2018. Resiliensi Remaja Perbedaan Berdasarkan Wilayah, Kemiskinan, Jenis Kelamin, dan Jenis Sekolah. Jurnal Ilmu Keluarga Dan Konsumen. Supriatna, E. 2019. Islam dan Kebudayaan. Jurnal Soshum Insentif. Thabroni, G. 2020. Pengertian Budaya, Unsur, Wujud & Fungsi Menurut Para k. Wati, W., & Silvianetri, S. 2018. PENGARUH KONSELING ISLAM DALAM MENINGKATKAN KESADARAN SHOLAT BERJAMAAH SISWA. Alfuad Jurnal Sosial Keagamaan.
Pendidikan dianggap sebagai sistem persekolahan. Sistem ini hanya melihat hubungan struktural antar bagian seperti guru, siswa, kurikulum dan sarana prasarana. Namun ternyata lembaga pendidikan dapat dilihat lebih dari itu yaitu sebagai sebuah tempat dalam melakukan transformasi budaya. Lembaga pendidikan dan transformasi budaya tidak dapat dipisahkan karena keduanya terkait dengan nilai. Lembaga pendidikan dapat disamakan dengan sistem sosial karena didalamnya terjadi proses sosialisasi. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan kontribusi berupa konsep dalam melakukan transfer nilai sehingga membentuk karakter melalui lembaga pendidikan. Penelitian ini menemukan bahwa menurut teori perkembangan budaya Van Peursen maka diharapkan lembaga pendidikan dapat memposisikan diri sebagai tahap fungsional. Pada tahap ini lembaga pendidikan sebagai agen transformasi nilai harus berfungsi dalam memberikan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Dalam melakukan proses pembudayaan nilai agar terbentuk menjadi karakter dapat menggunakan pendapat dari Pierre Bourdieu mengenai Habitus. Lembaga pendidikan dapat melakukan pembiasaan melalui beberapa kegiatan. Pembiasaan dapat dilakukan melalui interaksi sosial antar warga sekolah lembaga pendidikan. Pembiasaan yang telah mengakar menjadi pembudayaan harus dijaga dengan kontrol yang dilakukan oleh lembaga pendidikan. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free SOSIOHUMANIORA - Agustus 2017 - Jurnal LP3M - Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta 105 TRANSFORMASI BUDAYA MELALUI LEMBAGA PENDIDIKAN Pembudayaan Dalam Pembentukan Karakter Ashif Az Zafi Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama STAINU Purworejo Abstrak Pendidikan dianggap sebagai sistem persekolahan. Sistem ini hanya melihat hubungan struktural antar bagian seperti guru, siswa, kurikulum dan sarana prasarana. Namun ternyata lembaga pendidikan dapat dilihat lebih dari itu yaitu sebagai sebuah tempat dalam melakukan transformasi budaya. Lembaga pendidikan dan transformasi budaya tidak dapat dipisahkan karena keduanya terkait dengan nilai. Lembaga pendidikan dapat disamakan dengan sistem sosial karena didalamnya terjadi proses sosialisasi. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan kontribusi berupa konsep dalam melakukan transfer nilai sehingga membentuk karakter melalui lembaga pendidikan. Penelitian ini menemukan bahwa menurut teori perkembangan budaya Van Peursen maka diharapkan lembaga pendidikan dapat memposisikan diri sebagai tahap fungsional. Pada tahap ini lembaga pendidikan sebagai agen transformasi nilai harus berfungsi dalam memberikan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Dalam melakukan proses pembudayaan nilai agar terbentuk menjadi karakter dapat menggunakan pendapat dari Pierre Bourdieu mengenai Habitus. Lembaga pendidikan dapat melakukan pembiasaan melalui beberapa kegiatan. Pembiasaan dapat dilakukan melalui interaksi sosial antar warga sekolah lembaga pendidikan. Pembiasaan yang telah mengakar menjadi pembudayaan harus dijaga dengan kontrol yang dilakukan oleh lembaga pendidikan. Kata Kunci Transformasi budaya, transfer nilai, sekolah, karakter A. PENDAHULUAN Para pakar pendidikan mendefinisikan pendidikan sebagai suatu sistem. Pendidikan sebagai sistem dapat ditinjau dari dua hal yaitu Pendidikan secara mikro lebih menekankan pada unsur pendidik dan peserta didik, sebagai upaya mencerdaskan peserta didik melalui proses interaksi dan komunikasi. Oleh karena itu, fungsi pendidik adalah sebagai pengyampai materi melalui kegiatan pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. Sistem pendidikan menyangkut berbagai hal atau komponen yang lebih luas yaitu 1 Input , berupa sistem nilai dan pengetahuan, sumber daya manusia, masukan instrumental berupa kurikulum, silabus. Sedangkan masukan sarana termasuk di dalam fasilitas dan sarana pendidikan yang harus disiapkan. Unsur masukan input, contohnya peserta didik. 2 Proses, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan proses belajar atau proses pembelajaran di sekolah maupun di luar sekolah. Dalam komponen proses ini termasuk di dalamnya telaah kegiatan belajar dengan segala dinamika dan unsur yang mempengaruhinya, serta telaah kegiatan pembelajaran yang dilakukan pendidik untuk memberi kemudahan kepada peserta didik dalam terjadinya proses pembelajaran. Unsur proses contohnya metode atau cara yang digunakan dalam proses pembelajaran. 3 Output, yaitu hasil yang diperoleh pendidikan bukan hanya terbentuknya pribadi yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan sesuai yang diharapkan. Namun juga keluaran pendidikan mencakup segala hal yang dihasilkan berupa kemampuan peserta didik human behavior, produk jasa services dalam pendidikan seperti hasil penelitian, produk barang berupa karya intelektual ataupun karya yang sifatnya fisik Namun banyak pakar juga yang memandang pendidikan sebagai sebuah 1 Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan, Jakarta Rineka Cipta, 1991, 102. 106 SOSIOHUMANIORA - Agustus 2017 - Jurnal LP3M - Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta transformasi budaya yang dapat menginternalisasikan nilai-nilai luhur. Para pakar tersebut menyatakan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah seperangkat sarana yang diperoleh untuk membudayakan nilai-nilai budaya masyarakat yang dapat mengalami perubahan-perubahan bentuk dan model sesuai dengan tuntutan kebutuhan hidup masyarakat dalam rangka mengejar cita-cita hidup yang sejahtera lahir maupun batin. Berdasarkan pendapat tersebut maka pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan budaya karena antara pendidikan dan budaya terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yaitu Dengan demikian tidak ada suatu proses pendidikan tanpa kebudayaan dan tidak ada suatu pendidikan tanpa kebudayaan dan masyarakat. Pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan karena pendidikan adalah upaya memberikan pengetahuan dasar sebagai bekal hidup. Pengetahuan dasar untuk bekal hidup yang dimaksudkan adalah kebudayaan. Pendidikan bertujuan membentuk manusia agar dapat menunjukkan perilakunya sebagai makhluk yang berbudaya yang mampu bersosialisasi dalam masyarakatnya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dalam upaya mempertahahankan kelangsungan hidup. Pendidikan berbasis budaya menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam mengatasi segala tantangan kehidupan yang berubah-ubah dan semakin berat. Selain itu pendidikan memberikan jawaban dan solusi atas penciptaan budaya yang didasari oleh kebutuhan masyarakat sesuai dengan tata nilai dan sistem yang berlaku di dalamnya. Pendidikan sebagai transformasi budaya dapat dikatakan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke 2 Ralph Linton yang dikutip Joko Tri Prasetya dalam Ilmu Budaya Dasar, Jakarta Rineka Cipta, 2004, 29. generasi yang lainnya. Seperti bayi lahir sudah berada di dalam suatu lingkungan budaya Di dalam lingkungan masyarakat dimana seorang bayi dilahirkan telah terdapat kebiasaa-kebiasaan tertentu. Larangan-larangan, anjuran dan ajakan tertentu seperti yang dikehendaki oleh masyarakat. Hal-hal tersebut mengenai bnyak hal seperti bahasa, cara menerima tamu, makan, bercocok tanam dan lain-lain. Nilai-nilai kebudayaan mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya, nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab dan lain-lain, nilai yang kurang cocok diperbaiki misalnya, tata cara perkawinan, dan nilai yang tidak cocok diganti misalnya, pendidikan seks yang dulu diasingkan diganti dengan pendidikan seks melalui pendidikan formal. Disini tampak bahwa proses pewarisan budaya tidak semata-semata mengenalkan budaya secara estafet. Pendidikan justru mempunyai tugas menyiapkan peserta didik untuk hari esok. Berdasarkan penjelasakan diatas maka dapat ditelusuri cara mentransformasikan nilai-nilai budaya sehingga dapat membentuk karakter. B. PEMBAHASAN Proses Transformasi Budaya Kebudayaan sebagai nilai-nilai yang dihayati ataupun ide yang di yakini tersebut bukanlah ciptaan sendiri dari setiap individu yang menghayati dan meyakini, semuanya itu di peroleh melalui proses belajar. Proses belajar merupakan cara untuk mewariskan nilai-nilai tersebut dari generasike generasi. Pewarisan tersebut di kenal dengan proses sosialisasi atau enkulturasi proses pembudayaan.4 3 Tilaar, Sistem Pendidikan Nasional yang Kondusif bagi Pembangunan Masyarakat Industri Berdasarkan Pancasila, Jakarta LIPI, 1991, 21. 4 Aloliliweri, Gatra-gatra Komunikasi Antarbudaya, Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2011, 215. SOSIOHUMANIORA - Agustus 2017 - Jurnal LP3M - Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta 107 Sosialisasi dapat diartikan sebagai sebuah proses seumur hidup yang berkenaan dengan bagaimana individu mempelajari cara-cara hidup, norma dan nilai sosial yang terdapat dalam kelompoknya agar dapat berkembang menjadi pribadi yang dapat di terima oleh kelompoknya. Sosialisasi berfungsi untuk 1 Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada individu; 2 Menambah kemampuan berkomunikasi, mengembnagkan kemampuan menulis, membaca dan bercerita; 3 Membantu pengendalian fungsi-fungsi organik melalui latihan-latihan mawas diri; 4 Membiasakan individu dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam Agen atau pelaku sosialisasi meliputi keluarga, teman bermain, sekolah, media massa cetak dan elektronik, Lingkungan Proses sosialisasi terjadi melalaui conditioning oleh lingkungan yang menyebabkan individu mempelajari pola kebudayaan yang fundamental seperti berbahasa, cara berjalan, duduk, makan apa yang di makan, berperilaku sopan, mengembangkan sikap yang dianut dalam masyarakat seperti sikap terhadap agama, seks, orang yang lebih tua, pekerjaan, dan segala sesuatu yang perlu bagi warga masyarakat yang baik. Belajar norma-norma kebudayaan pada mulanya banyak terjadi di rumah dan sekitar, kemudian di sekolah, bioskop, televisi dan lingkungan lain. Sosialisasi tercapai melalui komunikasi dengan anggota masyarakat lainnya pola kelakuan yang diharapkan dari anak terus-menerus disampaikan dalam segala sesuatu dimana terlibat. Kelakuan yang tak sesuai dikesampingkan karena menimbulkan konflik dengan lingkungan. Sedangkan kelakuan yang 5 Ibid., 216. 6 M. Idianto, Sosiologi, Jakarta, Erlangga, 20014, 115-122. sesuai dengan norma yang diharapkan Proses enkulturasi berkaitan dengan proses belajar. Proses belajar menyesuaikan alam pikiran serta sikap terhadap adat, sistem norma, serta semua peraturan yang terdapat dalam kebudayaan seseorang. Proses ini telah dimulai sejak awal kehidupan kemudian dalam lingkungan yang makin lama makin meluas. Proses enkulturasi selalu berlangsung secara dinamis. Wahana terbaik dan paling efektif untuk mengembangkan ketiga proses sosial budaya tersebut adalah pendidikan yang terlembaga melalui sistem persekolahan. Sekolah merupakan wahana strategis yang memungkinkan setiap anak didik, dengan latar belakang sosial budaya yang beragam, untuk saling berinteraksi di antara sesama, saling menyerap nilai-nilai budaya yang berlainan, dan beradaptasi sosial. Dapat dikatakan, sistem persekolahan adalah salah satu pilar penting yang menjadi tiang penyangga sistem sosial yang lebih besar dalam suatu tatanan kehidupan masyarakat, untuk mewujudkan cita-cita kolektif. Maka, pendidikan yang diselenggarakan melalui sistem persekolahan semestinya dimaknai sebagai sebuah strategi kebudayaan. Proses transformasi budaya dapat di lakukan dengan cara mengenalkan budaya, memasukan aspek budaya dalam proses pembelajaran. Kebudayaan merupakan dasar dari praksis pendidikan maka tidak hanya seluruh proses pendidikan berjiwakan kebudayaan nasional saja, tetapi juga seluruh unsur kebudayaan harus di perkenalkan dalam proses pendidikan. Untuk membangun manusia melalui budaya maka nilai-nilai budaya itu harus menjadi satu dengan dirinya, untuk itu di perlukan waktu panjang untuk transformasi budaya. Selanjutnya Van Peursen menjelaskan bahwa perkembangan budaya manusia dibagi menjadi tiga tahap, yaitu 7 Nasution. S, Sosiologi Pendidikan, Jakarta Bumi Aksara, 2011, 126-129. 108 SOSIOHUMANIORA - Agustus 2017 - Jurnal LP3M - Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta mitis, ontologis, dan fungsionalis. Pertama tahap Mitis. Manusia menganggap bahwa dirinya adalah bagian dari alam. Manusia merasa bahwa dirinya berada di dalam dan dipengaruhi oleh alam. Hal ini dapat dilihat budaya Indian. Mereka sering menganggap bahwa diri mereka adalah penjelmaan dari hewan di sekitarnya. Pada tahap ini, manusia kerap memberikan kurban atau sesaji sebagai bentuk penghormatannya kepada alam. Manusia juga membuat norma-norma perlakuan terhadap alam. Sehingga hidupnya selalu selaras dengan alam dan dilindungi oleh alam itu sendiri. Kedua tahap Ontologis. Manusia mulai mengenal agama. Manusia tidak lagi memberikan kurban dan memandang bahwa alam merupakan sama-sama makhluk Tuhan yang harus dijaga kelestariannya. Meskipun begitu, manusia sudah mulai menjadikan alam sebagai objek yang bisa dipergunakan untuk mempertahankan hidupnya. Ketiga tahap fungsional. Manusia sudah jauh dari alam. Bahkan, alam tidak hanya sekedar dijadikan objek, tetapi telah menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan manusia agar hidupnya nyaman. Tahap ini ditandai dengan revolusi industri di dunia dan manusia memperlakukan alam dengan mengeksplorasinya secara Berdasarkan teori perkembangan budaya Van Peursen tersebut sebaiknya Pendidikan Islam dapat menempatkan diri pada tahap yang ketiga yaitu tahap fungsional. Peran Pendidikan Islam seharusnya dapat memberi kontribusi nyata dalam pembentukan karakter atau internalisasi nilai-nilai budaya. Mungkin ini memang bersifat pragmatis namun ini akan menjaga eksistensi Pendidikan Islam. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Sangkot Sirait bahwa Islam inklusif yang bersifat ontologis belum cukup karena harus ada Islam yang 8 van Peursen, Strategi Kebudayaan, Yogyakarta Yayasan Kanisius, 1976, 18-19. 9 Sangkot Sirait, Dari Islam Inklusif ke Islam Fungsional Telaah Atas Pemikiran Al-Faruqi, Yogyakarta Datamedia, 2008, 2. Pendidikan Sebagai Transformasi Nilai Hubungan anatar pendidikan dan transformasi budaya dalam pembentukan karakter adalaha adanya proses internalisasi. Internalisasi merupakan suatu proses penenaman nilai tentang budaya. Dalam penanaman dan penumbuhkembangan nilai tersebut dilakukan melalui berbagai didaktik-metodik pendidikan dan pengajaran, seperti pendidikan, pengarahan indoktrinasi, brain-washing, dan lain sebagainya. Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat. Misalnya melalui sebuah materi pembentuka karakter sebuah bangsa yang dimana di dalamnya membahas tentang sebuah nilai-nila budaya yang dapat diintegrasikan sebagai pembelajaran. Pendidikan sebagai transformasi budaya di artikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang sebagai bagian dari kebudayaan karena pendidikan adalah upaya memberikan pengetahuan dasar sebagai bekal hidup. Pengetahuan dasar untuk bekal hidup yang dimaksudkan disini adalah kebudayaan. Dikatakan demikian karena kehidupan adalah keseluruhan dari keadaan diri, totalitas yang dilakukan manusia yaitu sikap, usaha, dan kerja yang harus dilakukan oleh setiap orang. Menetapkan suatu pendirian dalam tatanan kehidupan bermasyarakat yang menjadi ciri kehidupan manusia sebagai mahluk bio-sosial. Oleh karena itu, pendidikan harus hadir dan di maknai sebagai pembentukan karakter character SOSIOHUMANIORA - Agustus 2017 - Jurnal LP3M - Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta 109 building manusia10, aktualisasi kedirian yang penuh insan dan pengorbanan atas nama kehidupan manusia. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok di teruskan misalnya, nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab dan lain-lain. Yang kurang cocok di perbaiki, dan yang tidak cocok di Contohnya budaya korup dan menyimpang adalah sasaran bidik dari prndidikan transformatif. Pendidikan merupakan proses membudayakan manusia sehingga pendidikan dan budaya tidak bisa dipisahkan. Pendidikan bertujuan membangun totalitas kemampuan manusia baik sebagai individu maupun anggota kelompok masyarakat sebagai unsur vital dalam kehidupan manusia yang beradab, kebudayaan mengambil unsur-unsur pembentukannya dari segala ilmu pengetahuan yang di anggap vital dan sangat di perlukan dalam menginterprestasi semua yang ada dalam kehidupannya. Peranan Lembaga Pendidikan Dalam Proses Pembudayaan Perananan lembaga pendidikan adalah menjadi salah satu saluran atau media dari proses pembudayaan. Media lainnya adalah keluarga dan institusi lainnya yang ada di dalam masyarakat. Dalam konteks inilah pendidikan disebut sebagai proses untuk “memanusiakan manusiaâ€. Sejalan dengan itu, kalangan antropolog dan ilmu sosial lainnya melihat bahwa pendidikan merupakan upaya untuk membudayakan dan mensosialisasikan manusia sebagaimana yang kita kenal sebagai proses enkulturasi pembudayaan dan sosialisasi proses pembentukan kepribadian dan perilaku seorang anak menjadi anggota masyarakat sehingga anak tersebut diakui oleh masyarakat yang 10 Muh. Wasith Achadi, “Interaksi Pendidikan dan Kebudayaanâ€, dalam Jurnal Dinamika Vol. 2, Jawa Tengah LP3M STAINU Purworejo, 2016, 2. 11 Ralph Linton, The Culture Background of Personality, New York Appleton-Century Crofts, 1985, 21. bersangkutan. Dalam pengertian ini pendidikan bertujuan membentuk agar manusia dapat menunjukkan perilakunya sebagai makhluk yang berbudaya yang mampu bersosialisasi dalam masyarakatnya dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup, baik secara pribadi, kelompok maupun masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan adalah upaya menanamkan sikap dan keterampilan pada anggota masyarakat agar mereka kelak mampu memainkan peranan sesuai dengan kedudukan dan peran sosial masing-masing dalam masyarakat. Secara tidak langsung, pola ini menjadi proses melestarikan suatu kebudayaan. Sejalan dengan ini bertrand russel mengatakan pendidikan sebagai tatanan kehidupan bermasyarakat yang berbudaya. Melalui pendidikan kita bisa membentuk suatu tatanan kehidupan bermasyarakat yang maju, modern, tentram dan damai berdasarkan nilai-nilai dan norma Untuk mewujudkan hal tersebut, para penyelenggara pendidikan harus yakin bahwa program dan proses pembelajaran dapat menggiring siswa agar mampu menggunakan segala apa yang telah dimilikinya yang diperoleh selama proses belajar sehingga bermanfaat dalam kehidupan selanjutnya, baik kehidupan secara akademis maupun kehidupan sehari-hari. Jika kita ingin memisahkan pendidikan dari kebudayaan merupakan suatu kebijakan yang merusak kebudayaan sendiri, malahan menghianati keberadaan proses pendidikan sebagai proses pembudayaan. Nilai-nilai pendidikan ditransmisikan dengan proses-proses acquiring melalui inquiring. Jadi proses pendidikan bukan terjadi secara pasif atau untuk determined tetapi melalui proses interaktif antara pendidikan dan peserta didik. Proses tersebut memungkinkan 12 Ace Suryadi dan Tilaar, Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu Pengantar, Bandung Rosdakarya, 1994 195. 110 SOSIOHUMANIORA - Agustus 2017 - Jurnal LP3M - Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta terjadinya perkembangan budaya melalui kemampuan-kemampuan kreatif yang memungkinkan terjadinya inovasi dan penemuan-penemuan budaya lainnya, serta asimilasi, akulturasi dan seterusnya. Ada pakar yang menganggap bahwa antara kebudayaan dan pendidikan saling berpengaruh artinya yaitu bahwa manusia yang berpendidikan adalah sama dengan orang yang berbudaya. Dengan budaya proses pendidikan juga akan lebih mudah karena mempelajari budaya dapat menumbuhkan kesadaran etik, kesusialaan, dan norma hokum. Jadi peserta didik akan lebih mudah menerima karena mereka mempunyai kesadaran untuk mengikuti proses pendidikan dengan tulus tanpa perlu dipaksaan. Contoh konkret yang diambil yaitu transformasi budaya bertanggung jawab. Dalam pendidikan formal , apalagi pendidikan dasar, guru mempunyai wewenang penuh dalam kelas. Guru berperan penting dalam proses transformasi budaya dan dalam penyampaian ilmu yang dapat dilakukan pendidik dalam pendidikan formal adalah memberikan pekerjaan rumah pada siswa. Dengan pemberian tugas atau pekerjaan rumah, siswa mempunyai tanggung jawab dan kewajiban untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Jika siswa tidak menyelesaikan baik sengaja ataupun tidak, guru dapat memberi sanksi yang mendidik bagi mereka. Apabila hal ini dibiasakan, maka akan terbentuk rasa tanggung jawab dalam diri siswa. Dalam contoh ini, telah terjadi proses transformasi kebudayaan bertanggung jawab dalam lingkungan pendidikan formal. Pendidikan merupakan bentuk strategi kebudayaan yang paling efektif untuk membangun suatu budaya dengan mewujudkan masyarakat yang baik, serta membangun peradaban umat manusia yang selaras dengan cita-cita kemanusiaan. Manusia yang tidak mengenal budaya sama saja tidak mengenal bangsanya sendiri. Oleh karena, kita harus melestarikan dan menjaga budaya dengan cara dalam proses pendidikan dimasukkan unsur-unsur budaya agar keluarannya dari pendidikan tidak hanya pengetahuan saja tapi siap untuk hidup dalam masyarakat. Proses Pembudayaan Melalui Lembaga Pendidikan Proses pembudayaan dalam menginternalisasikan nilai agar terbentuk karakter tidak akan lepas dari teori Habituasi yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu. Habitus adalah kebiasaan masyarakat yang melekat pada diri seseorang dalam bentuk disposisi abadi, atau kapasitas terlatih dan kecenderungan terstruktur untuk berpikir, merasa dan bertindak dengan cara determinan, yang kemudian membimbing mereka. Jadi Habitus tumbuh dalam masyarakat secara alami melalui proses sosial yang sangat panjang, terinternalisasi dan terakulturasi dalam diri masyarakat menjadi kebiasaan yang terstruktur secara sendirinya. Habitus dibuat melalui proses sosial, bukan individu yang mengarah ke pola yang abadi dan ditransfer dari satu konteks ke konteks lainnya, tetapi yang juga bergeser dalam kaitannya dengan konteks tertentu dan dari waktu ke waktu. Habitus tidak tetap atau permanen, dan dapat berubah di bawah situasi yang tak terduga atau selama periode sejarah panjang. Bourdieu dalam bukunya juga mengatakan bahwa Habitus bukanlah hasil dari kehendak bebas, atau ditentukan oleh struktur, tapi diciptakan oleh semacam interaksi antar waktu disposisi yang keduanya dibentuk oleh peristiwa masa lalu dan struktur, dan bentuk praktik dan struktur saat ini dan juga, penting, bahwa kondisi yang sangat persepsi kita ini. Dalam pengertian ini habitus dibuat dan direproduksi secara tidak The habitus is not only a structuring structure, which organizes practices and the perception of practices, but also a structured structure the 13 Pierre, Bourdieu, Distinction a social critique of the judgement of taste, Cetakan ke-8, translated by Richard Nice, Cambridge Harvard University Press, 1996, 170. SOSIOHUMANIORA - Agustus 2017 - Jurnal LP3M - Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta 111 principle of division into logical classes which organizes the perception of the social world is itself the products of internalization of the division into social Berdasarkan teori Habitus tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa apabila lembaga ingin membentuk karakter maka perlu pembiasaan. Lembaga pendidikan dapat diartikan sebagai masyarakat karena mereka merupakan sekelompok orang yang Habitus dapat diciptakan di lembaga pendidikan dengan by design. Dan apabila habitus ini dilaksanakan akan menjadi proses pembudayaan yang akan menginternalisasikan nilai sehingga terbentuklah karakter. Habitus yang telah terbentuk dan menciptakan karakter baik harus dikontrol dengan baik. Habitus akan menjadi proses pembudayaan dalam upaya membentuk perilaku dan sikap seseorang yang didasari oleh ilmu pengetahuan, keterampilan sehingga setiap individu dapat memainkan perannya masing-masing. Dengan demikian, ukuran keberhasilan pembelajaran dalam konsep enkulturasi adalah perubahan perilaku siswa. Hal ini sejalan dengan 4 empat pilar pendidikan yang dikemukakan oleh Unesco yaitu 1 Learning to know adalah upaya memahami instrumen-instrumen pengetahuan baik sebagai alat maupun sebagai tujuan. Sebagai alat pengetahuan tersebut di harapkan akan memberikan kemampuan setiap orang untuk memahami berbagai aspek lingkungan agar mereka dapat hidup dengan harkat dan martabatnya dalam rangka mengembangkan keterampilan kerja dan berkomunikasi dengan berbagai pihak yang di perlukan. Sebagai tujuan, maka pengetahuan tersebut akan bermanfaat dalam rangka peningkatan pemahaman, pengetahuan serta penemuan di dalam kehidupannya. 2 Learning to do lebih di 14 Ibid., 170. tekankan pada bagaimana mengajarkan anak-anak untuk memperaktikan segala sesuatu yang telah di pelajarinya dan dapat mengadaptasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah di perolehnya tersebut dengan pekerjaan-pekerjaan di masa depan. 3 Learning to live together pada dasarnya adalah mengajarkan, melatih dan membimbing peserta didik agar mereka dapat menciptakan hubungan melalui komunikasi yang baik, menjauh perasangka-perasangka buruk terhadap orang lain serta menjauhi dan menghindari terjadinya perselidihan dan konflik. 4 Learning to be sebagaimana di ungkapkan secara tegas oleh komisi pendidikan, bahwa prinsip fundamental pendidikan hendaklah mampu memberikan konstribusi untuk perkembangan seutuhnya setiap orang, jiwa dan raga, intelegensi, kepekaan, rasa etika, tanggung jawab pribadi dan nilai-nilai Dari keempat pilar pendidikan yang direkomendasikan oleh Unesco tersebut, terbentuknya karakter menjadi prioritas utama. Hal ini dapat dilihat dari posisi hierarki learning to be. Pendidikan digunakan sebagai pengkayaan pengalaman berilmu, pengendalian diri dan menjadi diri sendiri. Peserta didik mengembangkan daya kreasi dan kediriannya di masa depan yang berebda dari situasi saat belajar C. SIMPULAN Pendidikan sebagai sebuah sistem yang terdiri dari berbagai komponen pendidikan juga dapat diartikan sebagai sebuah sistem sosial. Sistem sosial ini berarrti lembaga pendidikan merupakan perkumpulan beberapa orang yang saling berinteraksi yang ingin mencapai suatu tujuan bersama. Pemahaman lembaga pendidikan sebagai suatu sistem sosial 15 Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, Bandung Alfabeta, 2011, 6-8. 16 Abdul Munir Mulkhan, “Spiritualisasi IPTEK dalam Perkembangan Pendidikan Islamâ€, dalam Paradigma Baru Pendidikan, Jakarta IISEP, 2008, 185. 112 SOSIOHUMANIORA - Agustus 2017 - Jurnal LP3M - Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta lebih dapat melihat pendidikan sebagai cara untuk menanamkan nilai-nilai luhur yang berada di masyarakat. Dalam menanamkan nilai-nilai ini maka dapat membentuk karakter siswa. Lembaga pendidikan sebagai agen dalam penanaman nilai dapat memberikan nilai berupa pengetahun, sikap dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Selanjutnya jika dilihat dari teori perkembangan budaya Van Peursen maka diharapkan lembaga pendidikan dapat memposisikan diri sebagai tahap fungsional. Pada tahap ini lembaga pendidikan sebagai agen transformasi nilai harus berfungsi dalam memberikan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Dalam melakukan proses pembudayaan nilai agar terbentuk menjadi karakter dapat menggunakan pendapat dari Pierre Bourdieu mengenai Habitus. Lembaga pendidikan dapat melakukan pembiasaan melalui beberapa kegiatan. Pembiasaan dapat dilakukan melalui interaksi sosial antar warga sekolah lembaga pendidikan. Pembiasaan yang telah mengakar menjadi pembudayaan harus dijaga dengan kontrol yang dilakukan oleh lembaga pendidikan. D. DAFTAR PUSTAKA Achadi, Muh. Wasith, “Interaksi Pendidikan dan Kebudayaanâ€, dalam Jurnal Dinamika Vol. 2, Jawa Tengah LP3M STAINU Purworejo, 2016. Ahmadi, Abu, Ilmu Pendidikan, Rineka Cipta Jakarta 1991. Aloliliweri, Gatra-gatra Komunikasi Antarbudaya, Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2011. Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, Bandung Alfabeta, 2011. Bourdieu, Pierre, Distinction a social critique of the judgement of taste, Cetakan ke-8, translated by Richard Nice, Cambridge Harvard University Press, 1996. Idianto, M, Sosiologi, Jakarta Erlangga, 20014. Linton, Ralph, The Culture Background of Personality, New York Appleton-Century Crofts, 1985. Mulkhan, Abdul Munir, “Spiritualisasi IPTEK dalam Perkembangan Pendidikan Islamâ€, dalam Paradigma Baru Pendidikan, Jakarta IISEP, 2008. Nasution. S, Sosiologi Pendidikan, Jakarta Bumi Aksara, 2011. Prasetya, Joko Tri, Ilmu Budaya Dasar, Jakarta Rineka Cipta, 2004. Peursen, van, Strategi Kebudayaan, Yogyakarta Yayasan Kanisius, 1976. Sirait, Sangkot, Dari Islam Inklusif ke Islam Fungsional Telaah Atas Pemikiran Al-Faruqi, Yogyakarta Datamedia, 2008. Suryadi, Ace dan Tilaar, Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu Pengantar, Bandung Rosdakarya, 1994. Tilaar, Sistem Pendidikan Nasional yang Kondusif bagi Pembangunan Masyarakat Industri Berdasarkan Pancasila, Jakarta LIPI, 1991. ... In order to improve the quality and potential of education in Indonesia, families, communities, and the government must share responsibility for education, bearing in mind the importance of education Sujana, 2019;Santika, 2021. Through education, a person's attitude and behavior will experience a process of transformation or formation Putra, 2017;Zafi, 2018;Susiana et al., 2019. Students must be able to think critically, systematically, logically, and creatively and be willing to work together effectively Marliani, 2015;Rachmantika & Wardono, 2019. ...Ichdar DomuStudents' information gathering is heavily reliant on their learning styles. Mathematical education calls for a deeper examination of methodological variations. This study examines the correlation between students' learning styles and their ability to solve math word problems involving a system of two-variable linear equations. The method employed is a qualitative, descriptive research method. The instruments utilized are student aptitude and learning style assessments. Data analysis methods include data collection, data reduction, and data interpretation. The findings included that the visual and auditory subjects completed only three of the five questions they deemed simple. Comparatively, kinesthetic subjects were able to answer four questions. When reexamining the visual, auditory, and kinesthetic subjects, the obtained answers are not rechecked. By concluding the solution process, visual and kinesthetic subjects exhibit similarities. In the final phase, the auditory subject neither concludes nor responds to the initial questions.... Sehingga dapat dikatakan bahwa Covid-19 memfungsikan peran yang sebenarnya. Dalam hal ini anak dengan keluarga bersosialisasi bagaimana membangun hubungan sosial keluarga yang harmonis seperti munculnya rasa komitmen bersama dan hubungan timbal balik antar anak dan orang tua, pemberian perhatian, keteladanan, serta membangun suasana belajar yang nyaman dan komunikasi yang baik Zafi, 2018. ...Risdoyok RisdoyokPembelajaran adalah instrumen yang sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa. Guna untuk mengembangkan potensi kognitif, psikomotor, dan afektif peserta didik. Untuk mengembangkan potensi-potensi ini tentu didukung dengan suasana belajar dengan nyaman dan penuh dengan bimbingan yang maksimal pula. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan data bersumber dari observasi, wawancara dan dokumentasi sedangkan metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini penelitain kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran mengalami perubahan, secara tidak langsung menunjukkan dinamika Pendidikan di Indonesia terganggu. Seperti proses pembelajaran dialihkan di rumah masing-masing daring, Kedua; transformasi media pembelajaran berbasis Media Digital, yakni WhatsApp groups, Google class, Googleomes’, Office 365, Ketiga; system, metode, evaluasi pembelajaran yang disesuaikan dan, Keempat; kerjasama guru dan orang tua yang menentukan keberhasilan pendidikan saat ini. Kalau kerjasama antara guru dan orang tua dijalani dengan baik maka keberhasilan dari belajar mereka akan tercapai. Karena melihat dari segi pengaruh mereka belajar saat ini cukup banyak, sehingga tingkat pemfokusan mereka menurut. Untuk itu perlunya peran lebih dari orang tua selama belajar dari rumah. Sedikitnya ini yang perlu diperhatikan oleh semua pihak lembaga Pendidikan untuk menciptakan kecerdasan kehidupan bangsa dalam situasi apapun.... Lahirnya generasi milenial pada era digitalisasi teknologi, harus diimbangi oleh kemajuan dunia pendidikan Siswati, 2019. Transformasi budaya yang semakin cepat juga dapat mengakibatkan perubahan tatanan sosial Zafi, 2018. Meskipun perubahan tersebut pada satu sisi menguntungkan, tetapi di sisi yang lain dapat merugikan. ...Karyanto KaryantoEndang SulistiyoriniWarsiman WarsimanThe research aims to identify the pattern of supervision used by SMAN 1 Sidoarjo in implementing the excellent school program based on soft skills. This study uses a qualitative descriptive approach. Principals, teachers, students, staff and everyone else involved in SMAN 1 Sidoarjo's excellent school program focused on soft skills were the study's subjects. The research's primary data collection methods are interviews, observation, and documentation. The results showed that SMAN 1 Sidoarjo's excellent school supervision program based on soft skills involved internal elements such as the school itself, the administrator as the primary element who manages the academic community, and teachers who supervise students. The purpose of internal supervision is to ensure that the soft skills program is implemented effectively and efficiently. The education department, supervisors, school committees, parents/guardians, and the community all participate in external supervision. External supervision is necessary for the program's development and maintenance. The result shows that supervision in the implementation of a program is essential to do to maintain the sustainability of the program.... Where this has all given an idea that the relationship between man and the world is not always shown with a passive attitude, resigned, also equating to conform to the rules of the surrounding environment. Education is intended as preparing the nations children to face the future and make this nation dignified among the other nations of the world Zafi, 2018. But it must be given a manifestation through a playful attitude, also always using the environment for the benefit of living in that time or even in the future, so that from these active relationships a culture is born. ...Firman MansirReligious and socio-cultural education is inseparable in peoples lives. Educational cultural proximity to religion and socio-cultural development become two interrelated and mutually needy sides in solving social problems of society. This research shows that there is a relationship between religious and cultural education that is interrelated, giving birth to changes and responding to the rapid development of the times, thus ushering in a reality of religious life that is full of educational values without losing the local culture. The success of a nation can be seen and measured by the younger generation of its nation in the present and the future. Regarding religious education with culture, it is hoped that there will be the best results from a new generation and have potential with good quality, who can develop the knowledge they have and apply it well in the fabric of education, society, and culture. Thus, religious and socio-cultural education provides answers to various problems in the social development of budaya to religion in the context of educational institutions, be it in schools or madrasas. Pendidikan Agama Islam dan sosial budaya tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat. Pendekatan kultural edukatif terhadap agama dan perkembangan sosial budaya menjadi dua sisi yang saling terkait dan saling membutuhkan dalam memecahkan persoalan sosial masyarakat. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pendidikan Agama Islam dan budaya yang saling berkaitan, dengan melahirkan perubahan serta merespon berkembangnya zaman yang semakin pesat, sehingga mengantarkan pada sebuah kenyataan kehidupan beragama yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan tanpa menghilangkan budaya setempat. Berhasilnya suatu bangsa dapat dilihat serta diukur dari generasi muda bangsanya pada masa kini serta pada masa yang akan datang. Dalam hubungannya Pendidikan Agama Islam dengan budaya, sangat diharapkan adanya hasil terbaik dari generasi yang baru dan memiliki potensi dengan kualitas yang baik, yang mampu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan mengaplikasikannya dengan baik dalam jalinan pendidikan, sosial dan budaya. Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam dan sosial budaya memberi jawaban dari berbagai permasalahan dalam perkembangan sosial budaya terhadap agama dalam konteks lembaga pendidikan, baik itu di sekolah maupun madrasah.... Education is one of the most important things for human life, education itself has the meaning of knowledge, skills, to a group of people that are passed on from generation to generation through teaching, or research, education is important for generational transfer, because the future is determined by a new generation, current work many are replaced by the new generation [1]. Universities in Indonesia, can take the form of institute, polytechnic, Academy,University and high School. ...Christian Pangestu KuncoroEducation is one of the most important things in human life, and in the world of education. However, there are still many students who graduate not on time. The purpose of this study is to find out an overview of what factors influence, then data analysis, and visualization so that students can graduate on time or not on time for UMN student graduates in 2018-2020. The method or approach used to solve the problem is data collection, independent variable, dependent variable, CRISP-DM, with SQLYog tools, to store data, rapid miner for data cleaning, then calculate prediction accuracy with rapid miner using nave Bayes algorithm, and regression logistics, using the included 10-fold validation method, and visualizing the data with Tableau.... Pendidikan adalah salah satu sarana yang digunakan untuk menerapkan dan membudayakan nilai-nilai budaya. Pendidikan berbasis budaya menjadi sebuah gerakan untuk menyadarkan masyarakat agar terus belajar mengatasi segala tantangan kehidupan yang semakin berat Zafi, 2018. ...Ummi Nur RokhmahMisbahul MunirThe purpose of this study is describe implementation of environmental school culture for shaping character environmental care students at SDN Temas 01 Batu. This study used a qualitative approach with descriptive research. The study is conducted in SDN Temas 01 Batu with the subject of his research is the principal, 3 teachers, 4 students, 1 janitor, 1 cafeteria guard and 2 parents of students. Data is collected through interview, observation, and documentation. Data analysis is carried out through 3 stages, datareduction, data display and verification. The validity of the information is tested by triangulation of techniques and triangulation of sources. The research results show that environmental school culture is implemented through 3 steps, planning, implementation and evaluation. Planning activities are forming school environmental management team, making environmental studies and planning environmental actions. Activities carried out during implementation are make environmental policies, implement environmental based curricula, conduct participatory based environmental activities, and manage environmental supporting facilities. The success of the implementation is evaluated by monitoring the state of biodiversity in schools, electricity bills and spending on purchasing office stationery, weighing the amount of waste and monitoring students' ability to manage the environment in terms of cognitive, affective and psychomotor aspects. The supporting factor that influences the implementation of an environmental school culture is the location of the school which is in a location that is still beautiful and gets a lot of support from outside parties. While the inhibiting factor is limitation of budget, there are still students who lack awareness in sorting waste and there is still a lot of plastic waste in schools.... Abdullah, 2016;Salik, 2020;Zafi, 2017.Peran budaya seseorang hanya dapat diukur dari sejauh mana ia dapat memberikan manfaat bagi kepentingan manusia. Agama tentu tidak bisa diabaikan dalam kaitannya dengan realitas social Hadi & Bayu, 2021. ...Yunus BayuPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai budaya Bugis dalam pendidikan Islam di perguruan tinggi Tana Luwu tepatnya di Kota Palopo yaitu Universitas Andi Djemma, IAIN Palopo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnopedagogi. Membangun kerukunan umat beragama dalam pendidikan nilai kearifan lokal masih sangat relevan untuk diterapkan oleh seluruh mahasiswa. Hal ini, tercermin dari sikap mahasiswa melalui disiplin dan tanggung jawab. Kedisiplinan dan tanggung jawab mahasiswa untuk menjaga harga diri, martabat. Cerminan dari Pluralitas yang berfungsi sebagai ruh mahasiswa dalam proses pendidikan nilai-nilai. Konsep pembelajaran budaya dalam pendidikan agama Islam memberikan nilai-nilai penghormatan seperti Sipakatau saling memberi informasi, Sipakalebbi Saling Menghormati, Sipakaingge Saling Mengingatkan, Sipakatou Saling Berbagi. Menghargai perdamaian, senang membantu sesama, apalagi jika mereka sesama manusia. Sehingga pendidikan budaya Bugis sejalan dengan nilai-nilai Pluralitas yang tumbuh dan berkembang di IndonesiaTiara NazmillahIstinganatul NgulwiyahZerri Rahman HakimThis study aims to describe the implementation of religious values in character education at SDIT Al-Izzah Kota Serang. This research is qualitative descriptive study. The research subjects are teachers and students of grades III,VI,V at SDIT Kota Serang. This research was conducted in January - February 2022. Data was collected through observation, interviews and documentation techniques. The results of the study show that the implementation of religious values can be carried out through religious habituation activities in students, namely 1 Implementation of religious values through self-development which consists of routine activities in schools, spontaneous activities carried out by teachers to students, the example given by the teacher, and the conditioning of the school which was created in such a way. 2 Implementation of religious values through subjects by inserting them in subject matter or moral messages, 3 Implementation of religious character values through school culture which consists of culture in the classroom, school, outside of school. The teacher's perception of the importance of religious values in character education is one of the sources that underlies character education and is very important to in still in students from an early age because strong religious provision from an early age will strengthen the moral foundations of students in the future. The role of the school in supporting the implementation of religious values in character education is providing the necessary facilities, supporting activities in schools, and setting a good example for HayatiTommy ChristomyBatik has long been well-known in Java. Its reputation increased significantly during President Susilo Bambang Yudhoyono’s SBY administration who declared national batik day. This encouraged provinces with no batik tradition before to create batik with its unique local identity. This article aims to map the roles of different agencies from educational institutions in the emergence of the local identity symbol of Nusa Tenggara Barat NTB province represented by Sasambo batik. This research shows that cultural policies in Indonesia must consider locality. Local cultural expressions in Indonesia, especially in Eastern Indonesia, are often ‘forced’ to follow what is suggested and brought by actor from different traditions. The situation became more complex when the cultural expression introduced was packaged through the ideology of nationalism, Batik, which was originally part of Javanese culture, has been elevated to become a National culture. Adopting batik as part of national identity is an important cultural strategy considering that the use of batik has spread throughout Indonesia whether we like it or not. The problem is, the presence of batik technology has had an effect on local cloth crafts that use a different concept from batik, such as NTB Ikat weaving. Ikat woven crafts are made through a long process and are more expensive than making batik, where the preparation and materials are easier to obtain and cheaper. In this case, the woven craftsmen cannot compete economically with those who make batik. Batik is faster and more can be produced. Batik was introduced systematically through the education system, while woven cloth was left as it was. This research is part of an ethnographic research and the data were collected through observation and in-depth interviews. It was found that teachers play important roles in establishing a good reputation and even competing with the local woven cloth of NTB province. At the same time, there was a struggle over meanings between national and local batik. The ideology of nationalism used by the teachers in the end benefits not only individuals, but also groups, even Pina SufaAmril AmirErizal GaniBuku Pendidikan Budaya Melayu Riau ini memang telah menyertakan karakter yang dikembangkan pada awal bab, yaitu nilai religius, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui nilai pendidikan budaya dan karakter yang terdapat dalam buku Budaya Melayu Riau yang ditulis oleh Taufik Ikram Jamil, Derichard H. Putra, dan Syaiful Anuar. Buku tersebut meryupakan buku yang menjadi bahan ajar mata pelajaran Budaya Melayu Riau untuk kelas VII Sekolah Menengah Pertama SMP yang ada di Riau. Mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran muatan lokal. Penelitan ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Metode yang dapat digunakan dalam pengumpulan data menurut Sudaryanto dalam Saleh, 2014 terbagi menjadi 2 dua, yaitu metode simak dan metode cakap. Dalam melakukan penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode simak, karena objek yang diteliti dalam bentuk tulisan, yaitu buku Pendidikan Budaya Melayu Riau. Peneliti mengambil garis besar dari penjelasan tiap bab pada buku pelajaran, kemudian menyertakan nilai karakter yang terdapat dalam buku Culture Background of PersonalityRalph LintonLinton, Ralph, The Culture Background of Personality, New York Appleton-Century Crofts, IPTEK dalam Perkembangan Pendidikan IslamAbdul MulkhanMunirMulkhan, Abdul Munir, "Spiritualisasi IPTEK dalam Perkembangan Pendidikan Islam", dalam Paradigma Baru Pendidikan, Jakarta IISEP, PrasetyaTriPrasetya, Joko Tri, Ilmu Budaya Dasar, Jakarta Rineka Cipta, Dan SuryadiH A TilaarSuryadi, Ace dan Tilaar, Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu Pengantar, Bandung Rosdakarya, Pendidikan Nasional yang Kondusif bagi Pembangunan Masyarakat Industri Berdasarkan PancasilaH A TilaarTilaar, Sistem Pendidikan Nasional yang Kondusif bagi Pembangunan Masyarakat Industri Berdasarkan Pancasila, Jakarta LIPI, Pendidikan dan KebudayaanD Daftar Pustaka AchadiMuh WasithD. DAFTAR PUSTAKA Achadi, Muh. Wasith, "Interaksi Pendidikan dan Kebudayaan", dalam Jurnal Dinamika Vol. 2, Jawa Tengah LP3M STAINU Purworejo, 2016.
Pendekatan sosial-budaya merupakan salah satu pengembangan dari kurikulum. Pendekatan ini dipengaruhi oleh pemikiran Piaget, Bruner dan Vygotsky. Sosio-budaya sangat terpengaruh oleh pandangan-pandangan dari Vygotsky 1978 . Seiring dengan Piaget penekanan terhadap pemahaman perkembangan ditinjau dari sisi genetik . Pendekatan lainnya mengarah pada perhatian asal muasal “Sosial”, dimana kapasitas intelektual berhubungan erat dengan aktifitas sosial , semakin tinggi intelektual seseorang maka aktivitas sosialnya juga akan semakin banyak, hal ini dikarenakan aktivitas sosial sebagai tuntutan dari intektual sesuai dengan pengamatan dan analisis Vygotsky. Kemampuan dan hubungan antar manusia selalu dikaitkan dengan penggunaan alat alat dan teknologi fisik. Akan tetapi sosial-budaya mengarahkan pemikiran kita bukan kepada fisiknya akan tetapi bagaimana cara-cara dan ketersediaan alat tersebut, dengan kata lain sosial-budaya mengambil pandangan/perspektif dari sudut pemikirannya, sedangkan realitanya diwujudkan dengan bentuk alat-alat tadi. Pendidikan diperoleh dari pemaknaan terhadap tradisi dan budaya, dan pengetahuan dapat diperoleh dari masyarakat. Bruner juga berpendapat bahwa pendidikan harus membantu siswa tumbuh besar dalam suatu budaya, membantu menemukan identitas diri dan membantu menemukan makna hidup dari budaya tersebut. Alat dan tanda serta simbol sesuatu adalah produk dari sejarah sosial-budaya yang diinterpestasikan kedalam pemikiran orang-orang/masyarakat sesuai perkembangan didalam masyarakat. Pada kenyataan terdapat begitu banyak budaya dimuka bumi ini, termasuk pola pengasuhan anak. Di Indonesia pola orang tua untuk mendidik dan mengasuh putra putrinya dikenal dengan istilah asuh, asah dan asih. To read the full-text of this research, you can request a copy directly from the has not been able to resolve any citations for this has not been able to resolve any references for this publication.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan pendidikan multikultural dalam proses tranformasi lembaga pendidikan Islam. Metode yang digunakan adalah studi literatur melalui pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 landasan pembangunan pendidikan multikultural terdiri atas landasan agama, historis, psikologis, sosiokultural dan geografis; 2 strategi pengembangan pendidikan multikultural pada lembaga pendidikan Islam dapat ditempuh melalui dua pendekatan, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Strategi pengembangan kuantitatif dengan program sosialisasi dan internalisasi melalui kegiatan keilmuan, program inovasi pendidikan multikultural, dan membangun budaya yang mengakomodir semangat dan nilai multikultural di lingkungan lembaga Islam. Sedangkan strategi pengembangan kualitatif adalah program studi intensif Al-Quran dan Sunnah Rosul, program revisi kurikulum, program diklat tenaga pendidik, dan program kearifan lokal. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 128 Corresponding author yeynafista224 EVALUASI Jurnal Manajemen Pendidikan Islam is licensed under The CC BY License PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM TRANSFORMASI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI DI INDONESIA Yeyen Afista, Rifqi Hawari, Umi Sumbulah Pendidikan Agama Islam, Universitas Hasyim Asyari; Tebuireng Jombang dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jawa Timur, Indonesia Abstract This study aims to analyze the development strategy of multicultural education in the process of transformation of Islamic educational institutions. The method used is a literature review through a qualitative approach. The results show that 1 the foundation of the development of multicultural education consists of the foundation of religion, history, psychology, socio-culture and geography; 2 strategies to develop multicultural education in Islamic educational institutions can be implemented through two approaches, namely quantitative and qualitative. Quantitative development strategies with socialization and internalization programs through scientific activities, multicultural education innovation programs, and building a culture that accommodates multicultural spirit and values in Islamic institutions. Meanwhile, qualitative development strategies are Al-Quran and Sunnah Rosul intensive study programs, curriculum revision programs, training programs for educators, and local wisdom programs. Keywords. Multkultural; Islamic Studies; Trasnformation; Islamic Institutions. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan pendidikan multikultural dalam proses tranformasi lembaga pendidikan Islam. Metode yang digunakan adalah studi literatur melalui pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 landasan pembangunan pendidikan multikultural terdiri atas landasan agama, EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 129 historis, psikologis, sosiokultural dan geografis; 2 strategi pengembangan pendidikan multikultural pada lembaga pendidikan Islam dapat ditempuh melalui dua pendekatan, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Strategi pengembangan kuantitatif dengan program sosialisasi dan internalisasi melalui kegiatan keilmuan, program inovasi pendidikan multikultural, dan membangun budaya yang mengakomodir semangat dan nilai multikultural di lingkungan lembaga Islam. Sedangkan strategi pengembangan kualitatif adalah program studi intensif Al-Quran dan Sunnah Rosul, program revisi kurikulum, program diklat tenaga pendidik, dan program kearifan lokal. Keywords. Multkultural; Pendidikan Islam; Transformasi; Lembaga pendidikan Islam. A. PENDAHULUAN Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sangat khas dibandingkan dengan wilayah dunia Muslim lainnya, terutama sejak kedatangan kekuatan-kekuatan Eropa hingga saat ini. Penyebaran dan dinamika Islam di Tanah Air diiringi dengan bangkit dan berkembangnya pendidikan Islam. Fakta bahwa Islam memberikan penekanan yang kuat pada pendidikan memotivasi para dai, para ulama, dan penguasa Muslim sejak awal sejarah Islam Indonesia untuk bekerja dengan giat mengembangkan pendidikan Islam. Untuk itu, mereka menggunakan masjid besar dan kecil muṣallā atau langgar serta lembaga lokal yang sudah ada seperti surau dan pesantren atau pondok sebagai tempat bagi umat Islam, khususnya anak-anak, untuk belajar dan belajar ilmu dasar tentang Islam Sya’adah et al., 2019. Penjajahan Belanda di Indonesia sejak awal abad XVI tidak berdampak pada penurunan pendidikan Islam. Selama periode ini, lembaga pendidikan Islam tidak hanya bertahan tetapi juga mulai dengan sungguh-sungguh melakukan penyesuaian tertentu dengan mengadopsi aspek-aspek tertentu dari pendidikan Eropa. Hal ini terlihat dari munculnya madrasah yang memperkenalkan sistem dan kurikulum klasikal. Hal ini pada gilirannya mempengaruhi lembaga pendidikan Islam "tradisional" seperti pondok atau pesantren untuk juga memodernisasi diri mereka sendiri Darmawan, 2019. Momentum baru dalam modernisasi pendidikan Islam di Indonesia telah berlangsung setidaknya dalam empat dekade terakhir. Sedikitnya ada dua pendekatan yang ditempuh pertama, dengan mengintegrasikan EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 130 sepenuhnya lembaga pendidikan Islam ke dalam pendidikan nasional yang dijalankan dan dibiayai oleh pemerintah dan, kedua, dengan standarisasi pendidikan Islam sesuai dengan standar nasional sementara kepemilikan dan administrasi tetap di tangan umat Islam. Indonesia merupakan salah satu daerah dengan potensi multikultural terbesar di dunia. Hal ini terlihat dari dinamika kehidupan masyarakat yang beragam, baik dari aspek agama, suku, bahasa dan Budaya Samsuri & Marzuki, 2016. Keberagaman yang ada, sebenarnya bisa menjadi salah satu potensi besar bagi kemajuan bangsa. Namun di sisi lain juga berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan jika tidak dikelola dan dikembangkan dengan baik dan langsung. Umat Islam sebagai agama mayoritas, harus berperan aktif dalam mengelola dimensi kebhinekaan bangsa ini. Pendidikan Islam sebagai salah satu instrumen penting peradaban umat, perlu dioptimalkan dengan sebaik-baiknya guna menata dinamika keberagaman agar menjadi potensi kemajuan. Multikultural berarti 'keanekaragaman budaya. Istilah multikultural sendiri terbentuk dari kata 'multi' yang artinya jamak; Banyak atau beragam, dan 'kebudayaan' yang artinya kebudayaan Nadlir, 2016. Budaya atau budaya merupakan ciri-ciri perilaku manusia yang dipelajari, tidak diturunkan secara genetik dan spesifik, sehingga budaya masyarakat tertentu dapat berbeda dengan budaya masyarakat lainnya. Dengan kata lain Budaya merupakan ciri khas bagi setiap individu orang atau suatu kelompok comunitee yang sangat mungkin berbeda satu sama undang-undang pendidikan, paradigma multikultural secara implisit disebutkan dalam No. 20 tahun 2003, pada bab III Pasal 4 yang membahas tentang prinsip-prinsip penyelenggaraan Pendidikan Irawati & Susetyo, 2017. Melalui pasal ini dijelaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan harus dilaksanakan secara demokratis, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai agama, nilai budaya dan kebhinekaan bangsa, dalam sesuai dengan nilai-nilai dasar Negara yaitu dalam konteks pembangunan Pendidikan Islam multikultural, pengakuan atas segala bentuk kebhinekaan. Tentu saja tidak cukup, tetapi bagaimana memperlakukan keberagaman dengan prinsip keadilan. Dimensi 'keberagaman' yang menjadi esensi dari konsep multikultural kemudian berkembang menjadi gerakan yang disebut multikulturalisme Chin, 2019. Memang upaya menampung dan menata dinamika kebhinekaan melalui agenda pendidikan Islam cukup banyak dilakukan. Tidak sedikit gagasan atau gagasan tentang multikultural yang EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 131 diaktualisasikan dalam diskusi dan praktik pendidikan Islam. Namun jika dilihat dari konsep pengembangan dan implementasinya belum berjalan seperti yang diharapkan. Penyelenggaraan pendidikan Islam multikultural khususnya di lembaga pendidikan Islam masih dihadapkan pada berbagai persoalan. Keberagaman suku bangsa di Indonesia turut mempengaruhi keanekaragaman budaya Indonesia. Dengan demikian, dari penelitian yang dilakukan oleh penelitian sebelumnya tentang pendidikan multikultural baik secara teori maupun studi lapangan masih belum mengarah pada pengertian yang lebih serius tentang pentingnya lembaga pendidikan multikultural yang dilakukan pada lembaga pendidikan Islam dan bagaimana strategi yang dilakukan oleh pendidik dalam pengajaran pendidikan multikultural dalam lembaga pendidikan agama Islam. B. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan studi pustaka literatur study yang menitikberatkan pada isu-isu penting seputar strategi pengembangan lembaga pendidikan Islam dan multikultural di lembaga pendidikan Islam. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah dari artikel jurnal dan buku yang berkaitan dengan pengembangan lembaga pendidikan Islam dan multikultural di lembaga pendidikan Islam. Analisis data menggunakan dua teknik, yaitu 1 analisis deskriptif, yaitu upaya mengumpulkan dan menyusun data, kemudian menganalisis data; dan 2 analisis isi, yang ditujukan pada proses analisis isi dalam data deskriptif Sujarweni, 2015. Sedangkan teknik analisis datanya menggunakan studi pustaka, menulis dan merangkum semua artikel dan buku yang terkait dengan pengembangan lembaga pendidikan Islam dan multikultural di lembaga pendidikan Islam serta mempelajari buku dan artikel yang berkaitan dengan data sumber lain. C. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari Pesantren ke Madrasah Transformasi Pendidikan Islam Awal abad dua puluh merupakan periode penting yang menyaksikan transformasi signifikan dalam pendidikan Islam di Indonesia, yang dimulai EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 132 dengan pemerintah Belanda membangun sekolah modern, sejalan dengan diperkenalkannya “kebijakan etis” yang menunjukkan kepedulian mereka terhadap kesejahteraan masyarakat. orang asli. Dengan kebijakan baru ini, pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan sistem sekolah baru, terutama volkschoolen sekolah rakyat, yang dimaksudkan untuk memberikan pendidikan dasar kepada anak-anak pribumi Indonesia. Volkschoolen awalnya didirikan pada tahun 1860-an di beberapa kota di Indonesia, khususnya Batavia sekarang Jakarta dan Semarang, Jawa Tengah. Setelah gagal mendapatkan respon positif di Batavia dan Semarang, mereka mendapat banyak antusiasme di Sumatera Barat. Alhasil, sekolah-sekolah ini pada akhirnya mampu melahirkan elite terpelajar Indonesia baru, khususnya yang berasal dari Sumatera Barat. Mereka membentuk segmen yang sangat penting dari masyarakat Indonesia dan sebagai akibatnya menentukan sebagian besar perjalanan sejarah Indonesia pada periode-periode berikutnya Muzakir, 2017. Pada saat yang sama, jaringan antara Muslim Indonesia terpelajar dengan reformisme Islam atau modernisme di Kairo, Mesir, juga mulai menemukan lahan subur di Nusantara. Kairo semakin menjadi tujuan ilmiah baru bagi pelajar Indonesia dalam mencari ilmu. Berbeda dengan Mekkah sebagai pusat tradisi terpenting keilmuan Islam Indonesia, Kairo membekali mahasiswa dari berbagai belahan dunia Muslim juga dengan ide-ide reformisme atau modernisme Islam, di samping pengalaman hidup di lingkungan perkotaan yang “modern”. Sekolah Islam dan percetakan semakin menjadi fenomena umum. Tak kalah pentingnya, Kairo juga menjadi pusat aktivisme politik di kalangan pelajar Indonesia yang datang ke kota ini dalam jumlah yang terus meningkat Ibrahim, 2019. Alhasil, jaringan Kairo mempercepat transformasi pendidikan Islam Indonesia, yang ditunjukkan dengan didirikannya berbagai lembaga pendidikan Islam baru oleh alumni Kairo dan rekan-rekan modernis lokalnya yang mengadopsi sistem modern sekolah Belanda, sebuah alternatif dari sistem tradisional pesantren. Bangkitnya lembaga pendidikan Islam modern, madrasah, oleh karenanya menjadi bagian penting dari gerakan Islam di awal abad dua puluh. Oleh karena itu, madrasah tidak hanya memperkenalkan metode dan sistem pengajaran baru seperti mengadopsi sistem kelas, menggunakan buku teks dan ilmu pengajaran baru selain ilmu agama Islam; Ia juga mulai EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 133 berfungsi sebagai forum untuk menyebarkan ide-ide tentang reformasi Islam. Madrasah juga segera menjadi lokus bagi penciptaan Muslim modern dan progresif. Perkembangan ini mulai muncul sebagai wacana dominan di Indonesia bersamaan dengan bangkitnya nasionalisme Indonesia. Dari sudut pandang inilah orang dapat mengatakan bahwa madrasah memiliki dimensi budaya dan politik sosial keagamaan yang kuat dalam kebangkitan dan perkembangan nasionalisme Indonesia. Pengenalan madrasah memiliki efek modernisasi tidak hanya pada institusi pendidikan Islam lainnya tetapi juga pada dinamika masyarakat Muslim Indonesia. Dalam perspektif komparatif, di pesantren, santri belajar agama dari kyai dan menggunakan kitab kuning sebagai satu-satunya sumber ilmu Muzakkir, 2017. Madrasah selain menggunakan buku-buku baru, menyisipkan metode baru untuk lebih memahami Islam dalam perspektif modern. Selain itu, jika pesantren diharapkan menghasilkan 'ulamā', maka madrasah diharapkan melahirkan umat Islam yang terpelajar Muslim terpelajar atau, pada akhirnya, melahirkan intelegensia bahkan ulamā 'intelektual. Sejalan dengan perkembangan tersebut, Abdullah Ahmad 1878–1933, salah satu tokoh Islam modernis terkemuka, mendirikan sekolah di Padang pada tahun 1909. Pendirian sekolah ini merupakan bagian dari upaya untuk melahirkan umat Islam yang berwawasan modern, sesuai dengan gagasan transformasi modern umat Islam di Sumatera Barat saat itu. Visinya adalah sekolah harus menjadi wadah untuk menyebarkan ide-ide baru tentang Islam modernis. Perlu dicatat bahwa sekolah ini didasarkan pada model Belanda; jadi sebenarnya bukan madrasah yang didasarkan pada pemikiran Islam tentang pendidikan, atau lembaga pendidikan berbasis pesantren Husmiaty Hasyim, 2015. Selain itu, Abdullah Ahmad menerbitkan jurnal pertama tentang reformasi Islam di Indonesia yang juga berperan penting dalam penyebaran modernisme Islam. Beberapa sekolah serupa kemudian didirikan. Munculnya semua institusi pendidikan ini menunjukkan fakta bahwa modernis Minangkabau cenderung mengambil sekolah model Belanda daripada sekolah berbasis Islam. Berbasis model Belanda, sekolah mereka memiliki ciri khas Islam dengan menambahkan sejumlah mata pelajaran agama Islam dalam kurikulum mereka. Transformasi pendidikan Islam berlanjut secara intensif dengan didirikannya lebih banyak sekolah semacam itu dan transformasi surau, lembaga pendidikan Islam tradisional di Sumatera Barat, menjadi lembaga pendidikan modern. Sering disebut surau dengan sistem kelas, berbagai ormas Islam memutuskan untuk bersatu dan EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 134 membentuk federasi. Setelah itu, perkembangan serupa terjadi di suraus lain di Sumatera Barat Husmiaty Hasyim, 2015. Semua sekolah baru ini merepresentasikan kecenderungan lain di kalangan modernis Sumatera Barat, yaitu mentransformasikan lembaga pendidikan berbasis Islam - yaitu surau tradisional - menjadi lembaga pendidikan modern. Basisnya tetap Islam, tetapi pada saat yang sama mencakup mata pelajaran umum modern. Meskipun disebut "sekolah", sebenarnya mereka adalah "madrasah". Selain Sumatera Thawalib, transformasi pendidikan Islam juga terlihat dari sejumlah madrasah yang didirikan oleh lulusan al-Azhar sepulang dari studi di Mesir. Mahmud Yunus Wardana, 2019 menunjukkan dengan jelas bahwa dengan meningkatnya jumlah lulusan al-Azhar yang kembali ke Indonesia, upaya untuk memasukkan ilmu-ilmu selain ilmu agama Islam ke dalam kurikulum lembaga pendidikan Islam semakin cepat. Beberapa madrasah mulai memasukkan ilmu umum ke dalam kurikulumnya. Selain mengajarkan ilmu-ilmu Islam, madrasah-madrasah ini juga mengajarkan ilmu-ilmu umum yang juga diajarkan di sekolah modern Belanda. Sekolah lain adalah Islam Normal Kulliah Mu'alimin Islamiah yang didirikan oleh Persatuan Guru Agama Islam PGAI pada tahun 1931. Perlu juga dicatat bahwa Perguruan Tinggi Islam didirikan juga oleh Persatuan Muslim Indonesia Persatuan Muslim. Indonesia, PERMI pada tahun yang sama. Selain itu ada juga Training College yang didirikan oleh perguruan tinggi lain. Sedangkan di Jawa, transformasi pendidikan Islam terutama dilakukan oleh Muḥammadīyah; organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia didirikan pada tahun 1912 oleh Ahmad Dahlan 1869–1923. Seperti halnya pembangunan di Minangkabau, upaya transformasi pendidikan yang dilakukan oleh Muhammadīyah juga dilandasi oleh gagasan untuk mencapai kemajuan umat Islam Indonesia. Ahmad Dahlan sangat menekankan perlunya mentransformasikan pendidikan Islam Ilham, 2020. Bagi Dahlan, ketertinggalan terutama umat Islam Jawa dibandingkan dengan Kristen terletak pada sistem pendidikan tradisional pesantren, yang menurutnya sudah tidak mampu lagi memberikan solusi bagi perubahan masyarakat. Untuk itu, Dahlan berupaya “membangun lembaga pendidikan dengan menerapkan sistem sekolah modern sekolah, sehingga proses pengajaran dapat terlaksana dengan baik Ilham, 2020. Alih-alih pesantren dan madrasah, Ahmad Dahlan bersama Muīammadīyah membangun sekolah Islam modern. Ia menambahkan unsur-unsur Islam ke dalam sistem EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 135 pendidikan Belanda yang diadopsi, di mana para siswa diberikan pelajaran sekuler dan Islam. Akibatnya, salah satu model sekolah Muhammadīyah adalah “HIS met de Qur’ān,” atau mata pelajaran agama Islam. Dengan ini, Muhammadiyah mengambil peran utama dalam upaya mengintegrasikan Islam ke dalam sistem pendidikan modern sekolah Belanda. Pesantren Muhammad berkembang pesat seiring dengan penyebaran organisasi di seluruh Indonesia. Hingga tahun 1932, organisasi muhammadiyah memiliki sekitar 316 sekolah di pulau jawa dan madura; Dari jumlah tersebut sebanyak 207 sekolah umum yang mengadopsi sistem dan metode pendidikan Barat, 88 sekolah agama dan 21 sekolah lainnya. Jumlah sekolah muhammadiyah terus bertambah seiring dengan penyebarannya ke setiap pelosok tanah air. Ini harus dilihat sebagai kontribusi nyata organisasi terhadap pendidikan Islam Indonesia. Melalui sekolah-sekolahnya, Muīammadīyah mengajarkan pendidikan Islam dan umum, berdasarkan tujuannya untuk menghasilkan umat Islam yang memiliki pengetahuan yang memadai tentang ilmu pengetahuan modern dan juga pengetahuan Islam. Lembaga pendidikan dibawah naungan Muhammadyah mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi dikembangkan untuk menghasilkan umat Islam yang terpelajar yang baik sehingga memiliki kemampuan untuk menghadapi dunia modern dengan basis Islam yang kuat. Kuatnya gelombang transformasi pendidikan Islam Indonesia yang diwakili oleh kebangkitan sekolah dan madrasah Islam akhirnya menyentuh pesantren yang sejak lama menjadi sasaran kritik para pemikir dan pemimpin modernis seperti Ahmad Dahlan. Sambil tetap mempertahankan aspek tradisional sistem pendidikan, beberapa pesantren di Jawa mulai memodernisasi aspek-aspek tertentu dari lembaganya seperti manajemen, kurikulum, dan adopsi sistem madrasah. Pengalaman pesantren Tebuireng di Jawa Timur patut disebutkan di sini. Pesantren ini dibangun oleh salah satu ulama terkemuka di Jawa pada abad ke-20, Kyai Hasyim Asy'ari 1871–1947. Ini menjadi model bagi pesantren lain di Jawa. Hampir semua pesantren terkemuka di Jawa dibangun oleh mantan santri Kyai Hasyim Asy'ari, sehingga menerapkan muatan pendidikan dan metode yang serupa dengan yang ada di Tebuireng Subhan, 2016. Dengan berdirinya organisasi tradisionalis Nahdlatul Ulama NU, pada tahun 1926, Kyai Hasyim Asy'ari memperoleh posisi sentral dalam tradisi 'ulamā' dan pesantren di Jawa. EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 136 Tren Baru Lembaga Pendidikan Islam Banyak upaya telah dilakukan baik oleh komunitas Muslim maupun pemerintah Indonesia untuk memodernisasi pesantren dan madrasah dan bahkan semua lembaga pendidikan Islam dari Bustān al-Aṭfāl taman kanak-kanak hingga tingkat universitas. Semua upaya tersebut dilakukan untuk mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk memenuhi kebutuhan praktis masyarakat serta untuk meminimalkan kesenjangan sumber daya dan kualitas antara lembaga pendidikan Islam yang diselenggarakan oleh Kemenag dan sekolah umum yang diselenggarakan oleh Kemendikbud. Keberhasilan masyarakat dan pemerintah dalam mengembangkan dan memodernisasi pesantren dan madrasah telah secara signifikan mengubah citra lembaga pendidikan Islam. Semua proses transformasi ini bertepatan dengan kebangkitan kesadaran beragama baru di kalangan umat Islam Indonesia sejak periode 1990-an, yang dikenal sebagai periode santrinisasi santrinisasi atau menjadi lebih saleh atau Islamisasi, di kalangan generasi baru dan muda. keluarga Muslim di perkotaan. Terbukti banyak dari mereka sekarang adalah kelas menengah. Keluarga-keluarga ini adalah lulusan universitas terkemuka baik di Indonesia maupun di luar negeri, dan mereka sangat tertarik pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi kurang memiliki pendidikan agama; oleh karena itu, mereka mencari cara yang efisien bagi anak-anak mereka untuk lebih memahami dan mempraktikkan ajaran Islam, dan lembaga pendidikan Islam akan memenuhi kebutuhan ini. Beberapa percaya bahwa kesadaran religius perkotaan baru ini dihasilkan dari kemajuan pendidikan, pertumbuhan ekonomi yang stabil, dan kebangkitan global kesadaran Islam karena gerakan internasional dan dampak dari televisi, penyiaran radio serta Internet, dan, yang lebih penting, akses yang mudah ke banyak informasi tentang Islam di media cetak seperti buku, jurnal, dan majalah. Perkembangan ini pada gilirannya menimbulkan munculnya perasaan ghirah sentimen tertentu untuk juga mengembangkan dan memajukan umat Islam secara umum vis-à-vis masyarakat lain di Indonesia. Oleh karena itu, dari sisi pendidikan, dapat dimaklumi jika mereka lebih memperhatikan kualitas output pesantren bagi masa depan pendidikan dan karir anaknya. Mereka bersikeras agar anak-anak mereka mengenyam pendidikan sains dan teknologi di satu sisi, tetapi juga berharap mereka EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 137 terbiasa dengan tradisi dan praktik keagamaan di sisi lain. Terbukti bahwa kelas menengah muslim inilah yang menjadi aktor utama perkembangan trend baru lembaga pendidikan Islam. Mereka memprakarsai dan berinvestasi dalam pengembangan cabang baru sekolah Islam madrasah sebagai genre baru lembaga pendidikan Islam. Dalam banyak hal, sekolah Islam baru ini bersifat “sekuler” atau sekolah umum dalam hal sistem dan kurikulumnya. Beberapa dari sekolah baru ini secara eksplisit diberi nama sekolah Islam, sedangkan yang lain diberi nama sekolah teladan sekolah model atau sekolah unggulan. Namun, sekolah Islam baru membuat beberapa penyesuaian pada kurikulum Kemendikbud. Mereka lebih menekankan pada mata pelajaran tertentu seperti ilmu alam dan sosial dan pada bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Dalam perkembangan yang lebih mutakhir, beberapa sekolah Islam baru mengadopsi sistem pesantren untuk menyelenggarakan pendidikan 24 jam Mukhlis, 2017. Sekolah Islam yang baru ini lebih menekankan pada nilai-nilai keislaman dalam interaksi sehari-hari, daripada menekankan pengetahuan Islam hanya sebagai materi pelajaran yang diajarkan secara teratur di kelas. Dalam pengertian ini, sekolah Islam tidak menganggap ilmu-ilmu Islam sebagai mata pelajaran inti dalam kurikulum seperti di pesantren, madrasah, dan sekolah Islam lama atau hanya sebagai mata pelajaran tambahan seperti yang terlihat di sekolah umum. Yang ditekankan oleh sekolah Islam baru adalah bertujuan untuk membangun karakter Islami siswa berdasarkan etika dan nilai-nilai agama. Dengan kata lain, agama tidak hanya dipandang sebagai bagian dari pengetahuan kognitif sebagaimana yang telah dituangkan dalam kurikulum melainkan untuk dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Oleh karena itu, Islam harus dipraktekkan sebagai nilai dan etika yang menjadi kebiasaan siswa dalam kehidupannya. Oleh karena itu, di sekolah Islam baru; eksposisi rinci ilmu-ilmu Islam yang biasa diajarkan di pesantren dan madrasah hampir tidak tersedia. Perlu juga disebutkan bahwa sekolah Islam dengan genre baru ini dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap seperti ruang kelas ber-AC, perpustakaan, laboratorium, dan arena olahraga serta layanan pendidikan dan pengajaran lainnya seperti komputer, Internet, dan, tentu saja, kurikulum ekstra yang terorganisir dengan baik. Sebagai lembaga modern, sekolah Islam baru dijalankan oleh para profesional dalam hal manajemen, proses belajar mengajar, dan pengembangan kurikulum. Guru, manajer, dan staf administrasi direkrut dalam seleksi yang sangat kompetitif, dan EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 138 kebanyakan dari mereka memperoleh gelar yang lebih tinggi dan berkualitas. Demikian pula, persyaratan untuk diterima sebagai siswa di sekolah ini juga sangat kompetitif. Hanya mereka yang mencapai nilai tertentu dalam tes masuk dan lulus wawancara yang dapat diterima. Oleh karena itu, sekolah Islam baru ini sangat mahal baik dari segi biaya masuk maupun biaya bulanan lainnya. Tidak mengherankan, karena sekolah semacam ini didirikan antara lain untuk menarik kaum Muslim kelas menengah di perkotaan dan untuk memenuhi kebutuhan mereka akan pendidikan berkualitas bagi anak-anaknya yang memadukan ilmu sekuler dan nilai-nilai agama. Dengan ciri-ciri seperti ini, tidak mengherankan jika sekolah Islam swasta baru dalam banyak kasus mampu menggantikan kualitas sekolah negeri atau madrasah negeri milik negara yang dikelola oleh Kemendikbud dan Kemenag. Model lain dari genre baru ini yang layak disebut adalah Sekolah Madania di bawah Yayasan Madania. Lembaga ini didirikan pada pertengahan 1990-an. Awalnya, Madania membuka dan mengadopsi model pesantren pesantren untuk jenjang SMA. Namun, model pesantren ini sudah tidak tersedia lagi karena kendala teknis dan biaya yang sangat tinggi. Sekolah ini kini juga terkenal dengan upayanya untuk mempromosikan gagasan pluralisme dan multikulturalisme. Karena itu, Madania menerima mahasiswa non-Muslim. Itu juga mempertahankan ajaran agama mingguan untuk siswa non-Muslim dengan memiliki kelas agama yang mereka anut. Ketentuan ini tentu saja sangat umum untuk sekolah umum sekolah umum di bawah Kemendikbud atau untuk beberapa sekolah swasta yang dikelola oleh yayasan Katolik, tetapi cukup berbeda untuk lembaga pendidikan yang berafiliasi dengan komunitas Muslim. Saat ini, sekolah ini memiliki setidaknya lebih dari 3% siswa non-Muslim. Sejalan dengan gagasan pluralisme dan multikulturalisme, Madania sangat menekankan pada pembentukan karakter individu dan keterampilan hidup dalam menanggapi globalisasi dengan memperkenalkan siswa pada bahasa lain dan orientasi budaya dari peradaban lain seperti yang ada di China dan Jepang. Model unik lainnya adalah SMU Insan Cendekia yang dirintis pada tahun 1996 sebagai Sekolah Menengah Atas Umum SMU oleh beberapa ilmuwan terkemuka. SMU Insan Cendekia bertujuan menghasilkan ilmuwan muslim yang juga berwawasan keislaman. Selain itu, juga menawarkan kesempatan dan beasiswa bagi lulusan untuk melanjutkan studi lanjutan di luar negeri tentang sains dan teknologi di Jerman, khususnya. Sekolah ini juga mengadopsi sistem sekolah berasrama. Beberapa tahun lalu, sekolah ini EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 139 dialihfungsikan menjadi Madrasah Aliyah Negeri MAN dan ditempatkan di bawah Kemenag. Strategi Pengembangan Pendidikan Multikultural di Lembaga Pendidikan Islam Perkembangan pendidikan Islam multikultural di Indonesia tidak dapat dipungkiri menghadapi berbagai tantangan, antara lain 1 Aspek sosial budaya yaitu munculnya pertentangan dalam sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai pendidikan multikultural, terutama dari kelompok masyarakat yang cenderung bersifat tekstualis, baik dari Muslim maupun non-Muslim; 2 aspek politik yaitu tantangan para penentu kebijakan, baik eksekutif maupun legislatif, karena belum memiliki kesamaan visi dalam mengembangkan pendidikan Islam multikultural; 3 Aspek pendidikan yaitu dari lembaga atau praktisi pendidikan yang masih memiliki pandangan berbeda tentang urgensi dan penyelenggaraan pendidikan Islam multikultural; 4 Globalisasi, pengaruh globalisasi yang begitu besar terhadap tatanan masyarakat dunia dan juga pengaruhnya terhadap agama. kehidupan; 5 Radikalisme Islam, yaitu gerakan yang mempertahankan eksistensi dan ortodoksi agama dengan jalan kekerasan, sehingga cenderung tidak menginginkan adanya keberagaman; dan 6 Perbedaan pandangan tentang relasi agama dan kenegaraan yang sulit untuk disatukan sehingga mempengaruhi perkembangan pendidikan multikultural Arifin, 2018. Berkaitan dengan hal tersebut, pengembangan pendidikan Islam multikultural di lembaga pendidikan Islam harus memperhatikan bahwa nilai-nilai multikultural yang sudah melekat sejak bangsa Indonesia ada melalui falsafah bangsa Indonesia Bhinneka Tunggal Ika, seperti Gotong Royong, antara lain mendampingi, dan menghargai antara lain. , merupakan modal penting untuk mengembangkan pendidikan Islam multikultural agar menjadi lebih besar dan lebih baik, khususnya di lembaga pendidikan Islam Arifin, 2018. Sebagai perbandingan, pendidikan multikultural yang berkembang di negara barat seperti Amerika Serikat merupakan proses pendidikan yang menekankan pada strategi pembelajaran dengan menjadikan latar belakang siswa budaya yang beragam sebagai dasar untuk meningkatkan pembelajaran siswa di kelas dan lingkungan sekolah. Hal ini dilakukan dalam rangka mendukung dan memperluas konsep budaya, perbedaan, persamaan, dan demokrasi dalam aspek kehidupan berbangsa dan bernegara Alam & Daflizar, 2018. Penyelenggaraan pendidikan multikultural yang berlangsung EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 140 di Amerika menempatkan keberagaman peserta didik sebagai faktor penting yang dapat mendukung penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan multikultural secara lebih luas. Bagi institusi pendidikan Islam di Indonesia, beberapa kajian yang dirangkum dalam Landasan Pengembangan Pendidikan Islam Multikultural dan potensi tantangan yang akan dihadapi, dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi pengembangan pendidikan Islam multikultural. Strategi pembangunan yang dimaksud tentunya harus menjadikan prinsip-prinsip nilai yang terkandung dalam ajaran Islam sebagai landasan utama dalam proses pembangunan. Secara kuantitatif, strategi Pengembangan Pendidikan Islam multikultural yang dapat ditempuh adalah pertama, program sosialisasi dan internalisasi melalui kegiatan keilmuan, dengan memperluas referensi atau bahan bacaan tentang pengembangan Pendidikan Islam multikultural Wahyuddin & Hanafi, 2017. Referensi atau bahan bacaan tersebut perlu diatur dengan memperhatikan pembaca sasaran. Halidijah 2011 mengatakan bahwa “Meskipun informasi dapat ditemukan dari media lain seperti televisi dan radio, namun peran membaca tidak dapat sepenuhnya tergantikan. Membaca tetap memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, karena tidak semua informasi didapat dari televisi dan radio media. “Dengan memperluas materi bacaan multikultural yang disesuaikan dengan target audiensnya, maka akan semakin memperluas proses sosialisasi dan internalisasi pendidikan multikultural di semua kalangan. Kedua, program Inovasi Pendidikan multikultural. Program ini dapat dilakukan secara individu atau kelompok atau melibatkan masyarakat luas. Pelaksanaan program Inovasi Pendidikan Multikultural perlu disesuaikan dengan lingkungan dan level kelompok yang dihadapi. Bentuk kegiatan dari program inovasi pendidikan multikultural, di antaranya pendidikan multikultural melalui program bahasa holistik yang dapat diterapkan pada anak-anak di lembaga pendidikan anak usia dini Halidjah & Siti, 2011, Transformasi pembelajaran dengan pendekatan dialog dan pengembangan toleransi di lingkungan sekolah, Kemudian pembelajaran karakter multikultural melalui program P3K psikologis yang ditujukan khusus pada korban bencana alam. Untuk mendorong program inovasi pendidikan multikultural dapat diupayakan melalui kegiatan kompetisi, pelibatan forum atau komunitas yang peduli pada isu multikultural, kegiatan seminar, penyuluhan, dan khususnya dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Ketiga, membangun budaya yang mengakomodir jiwa dan nilai multikultural, baik di EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 141 lingkungan lembaga pendidikan Islam maupun masyarakat. Pengembangan budaya multikultural dalam lingkungan pendidikan dapat diupayakan melalui pembelajaran berbasis multikultural, sehingga sikap dan pola pikir peserta didik akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman. Penting untuk menghapus segala bentuk praktik diskriminasi Halidjah & Siti, 2011. Pengembangan budaya multikultural di masyarakat dapat dilakukan dengan memanfaatkan forum atau media pendidikan Islam, seperti ceramah agama, dakwah jumat, syukuran ta'lim, acara-acara publik dan lain sebagainya. Pengembangan kualitatif selanjutnya, strategi yang dapat diupayakan adalah pertama, program asesmen intensif untuk memperkuat membangun budaya epistemologi pendidikan Islam multikultural. Masih banyak teori yang didominasi oleh para pemikir Barat yang bersumber dari filsafat postmodernisme. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian yang didasarkan pada sumber-sumber Islam Alquran dan As-Sunnah itu sendiri. Menurut Suparman Arifin, 2018, pandangan Alquran tentang multikultural pada hakikatnya sudah ada dalam Islam sejak zaman Rasulullah sampai sekarang. Keragaman justru kekayaan intelektual yang akan diteliti, sebagaimana tertuang dalam ayat-ayat Alquran yang menjelaskan hal tersebut. Melalui pendidikan multikultural diharapkan setiap individu atau kelompok dapat menerima dan menghargai setiap perbedaan, hidup berdampingan secara damai dan tentram, sehingga membentuk negara dan bangsa yang damai dan sejahtera. Secara konseptual, pandangan al-Qur'an tentang multikultural terdiri dari lima karakter, yaitu belajar hidup dalam perbedaan, membangun tiga aspek saling saling percaya, memahami, dan menghormati, berpikiran terbuka, menghargai dan saling ketergantungan, serta penyelesaian masalah. konflik dan rekonsiliasi kekerasan. Dengan demikian, konsep pendidikan multikultural pada hakikatnya sangat selaras dengan ajaran Islam, yakni dalam mengatur tatanan manusia di Bumi. Oleh karena itu, pendidikan Islam multikultural telah memberikan sedikit harapan dalam mengatasi berbagai permasalahan masyarakat yang terjadi belakangan ini dan juga sebagai konsep pendidikan yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai, kepercayaan, heterogenitas, pluralitas, keberagaman, sehingga perlu diperdalam dan digali. sumber ajaran Islam yaitu Alquran dan As Sunah. Kedua, program Revisi Kurikulum untuk memperkuat nilai-nilai multikultural dalam program pendidikan, baik di sekolah maupun perguruan tinggi. Kurikulum tingkat sekolah saat ini, belum sepenuhnya mengakomodir EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 142 semangat dan nilai multikultural. Menurut Lundeto 2018, salah satu alasan utama masuknya program pendidikan multikultural di sekolah adalah untuk memperbaiki kekurangan dalam penyusunan kurikulum. Tujuan utama pendidikan multikultural adalah mempelajari latar belakang sejarah, bahasa, karakteristik budaya, sumbangan, peristiwa kritis, individu yang berpengaruh, dan kondisi sosial, politik, dan ekonomi dari berbagai kelompok etnis dan minoritas. Informasi ini harus komprehensif, analitis, dan komparatif, dan harus memasukkan persamaan dan perbedaan antara kelompok yang ada. Landasan psikologis pendidikan multikultural menekankan pada pengembangan pemahaman diri yang lebih besar, konsep diri yang positif, dan kebanggaan pada identitas pribadinya. Penekanan bidang tersebut merupakan bagian dari tujuan pendidikan multikultural yang memberikan kontribusi pada pengembangan pribadi siswa, yang berisi pemahaman yang lebih baik tentang diri yang pada akhirnya memberikan kontribusi pada pencapaian intelektual, akademik, dan sosial siswa secara keseluruhan. Ketiga, program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman pendidik tentang signifikansi dan urgensi multikultural, dan bagaimana pendidik dapat menerapkannya dalam proses pengajaran. Harus diakui bahwa sebagian pendidik sendiri masih berpikiran rendah tentang dinamika keberagaman dan perbedaan, sehingga diperlukan upaya internalisasi di kalangan pendidik. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman yang intensif tentang pendidik yaitu melalui pelatihan, bahan bacaan dan ruang kreativitas menulis tentang pendidikan multikultural. Dalam konteks metode pengajaran inklusif pendidikan agama, hubungan antara guru dan peserta didik bersifat dialogis komunikatif. Guru tidak dipandang sebagai satu-satunya sumber belajar, begitu pula sebaliknya. Bagaimanapun, guru dan peserta didik sama-sama sebagai subjek pembelajaran, sehingga suasana pembelajaran di dalam kelas akan dinamis dan hidup. Pengajaran pendidikan agama tidak hanya dipahami sebagai transfer ilmu, tetapi juga sebagai passion dan amalan dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran agama pada gilirannya memiliki keterkaitan yang erat dengan hakikat yang sebenarnya, bukan hanya di akhirat okultisme. Keempat, Program Kearifan Lokal, yaitu pengembangan budaya lokal yang sarat dengan nilai moral dan tidak bertentangan dengan prinsip dasar ajaran Islam. Kearifan lokal pada hakikatnya merupakan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat yang diyakini benar dan menjadi acuan dalam bertindak dan berperilaku sehari-hari. Kearifan lokal merupakan kecerdasan EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 143 manusia yang tergolong dalam suku tertentu yang diperoleh melalui pengalaman masyarakat Prasetawati & Asnawi, 2018. Pendidikan multikultural berbasis kearifan lokal, dapat dilakukan dengan program deradikalisasi Islam yang terdiri dari dua tahap, yaitu 1 deradikalisasi dilakukan sedini mungkin dengan melakukan tindakan preventif terhadap paham radikal preventif deraddaic, dan 2 deradikalisasi dilakukan melalui pelestarian pemahaman Islam lil'alamin, sehingga membangun masyarakat Islam yang toleran dan Cinta Damai rahmatan lil'alamin. Pengembangan budaya lokal dalam implementasinya di lingkungan pendidikan, dapat dilakukan dengan memberikan tugas kepada peserta didik untuk mengikuti kegiatan kemasyarakatan atau acara budaya lokal yang ada dimasyarakat. Khusus bagi mahasiswa, program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang telah terintegrasi dalam kurikulum pendidikan, perlu dibekali dengan konten atau nilai multikultural yang lebih spesifik. Dengan demikian, dari berbagai pandangan tentang pendidikan multikultural selalu berkaitan erat dengan landasan agama, historis, psikologis, sosiokultural dan geografis. Landasan terbentuknya multikultural dengan melihat aspek-aspek tersebut, sehingga multikultural tidak dipahami sebagai konflik. Namun yang membedakan adalah pembedaan suku, tanpa pertentangan seperti yang diajarkan Tuhan, bahwa Tuhan sama sekali tidak melihat perbedaan, tetapi yang membedakannya adalah takwa. Oleh karena itu, dalam rangka memberikan penguatan terhadap pendidikan multikultural di lembaga pendidikan Islam, perlu dilakukan latihan-latihan terkait pendidikan multikultural agar tidak terjadi diskriminasi pada peserta didik. Kajian pendidikan Islam multikultural telah banyak dilakukan dalam berbagai kajian penelitian sebelumnya, seperti yang telah disebutkan pada bagian akhir pendahuluan, namun kajian yang dilakukan oleh penelitian sebelumnya, seperti Amar 2014, memfokuskan pada kajian landasan normatif terkait Al-Qur'an. Ayat ini sebagai inspirasi pendidikan Islam di era multikultural. Arif 2017 mengkaji model pendidikan Islam berbasis multikultural yang beberapa tokoh dipandang sebagai konsep yang paling cocok diterapkan di Indonesia. Sedangkan penelitian Azzuhri 2012 berfokus pada konsep multikulturalisme dan pluralisme dalam pendidikan agama. Zain 2013 juga meneliti pengembangan pendidikan Islam multikultural berbasis manajemen sumber daya manusia. Dari hasil kajian penelitian sebelumnya, masih belum dibahas secara mendesak tentang Landasan Pengembangan EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 144 Pendidikan Islam Multikultural dan Strategi Pengembangan Pendidikan Islam Multikultural pada Lembaga Pendidikan Islam secara lebih spesifik. Dari penelitian sebelumnya, pendidikan multikultural dilakukan di lembaga pendidikan, baik di pendidikan Islam maupun pendidikan formal. Hanya menyentuh pada beberapa aspek, belum pada keseluruhan aspek, baik dari pendidik, pemahaman siswa tentang perbedaan dan lain-lain. Oleh karena itu, sebagai seorang guru tidak hanya dituntut tentang kompetensi sosial, pedagogik, kepribadian, profesional, tetapi juga dituntut tentang kompetensi budaya. Artinya setiap pendidik yang ditugaskan di daerah tertentu dengan agama Islam sebagai prioritas, sehingga guru diharapkan tidak hanya mengajarkan materi pelajaran yang terdapat di dalam buku teks, tetapi juga dapat menggunakan kurikulum tersembunyi dalam setiap penyampaian materi yang dilakukan selama pembelajaran berlangsung. D. KESIMPULAN Logika di balik perkembangan lembaga pendidikan Islam mungkin berbeda satu dengan yang lainnya. Pesantren, madrasah, sekolah Islam lama, dan sekolah Islam baru dalam beberapa hal berbeda cara mereka berkembang. Namun kesemuanya itu telah sampai pada satu tujuan, yaitu mengembangkan lembaga pendidikan Islam yang berkualitas bagi umat Islam Indonesia. Pada titik ini, semua lembaga pendidikan Islam sepakat bahwa sistem pendidikan Islam yang dapat menanamkan nilai-nilai agama dan moral dalam kurikulum modern sangat penting dan prospektif. Dengan itu lembaga pendidikan Islam mungkin akan dapat mempertahankan peran instrumentalnya dalam kelanjutan modernisasi umat Islam secara keseluruhan. Landasan Pengembangan Pendidikan Islam Multikultural di Lembaga Pendidikan Islam mengacu pada beberapa landasan fundamental yaitu landasan agama, historis, psikologis, sosiokultural, dan geografis. Strategi pengembangan pendidikan Islam multikultural di lembaga pendidikan Islam dapat bersifat kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif 1 Program sosialisasi dan internalisasi melalui kegiatan ilmiah; 2 Program inovasi pendidikan multikultural; dan 3 Membangun budaya yang mengakomodir jiwa dan nilai multikultural di lingkungan lembaga pendidikan Islam. Kualitatif adalah 1 Program asesmen intensif untuk penguatan membangun budaya epistemologi pendidikan Islam multikultural berbasis Alquran dan Sunnah; EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 145 2 Program Revisi Kurikulum; 3 Program pendidikan dan pelatihan untuk pendidik; dan 4 Program kearifan lokal. REFERENSI Alam, M., & Daflizar, D. 2018. Pendidikan Islam Berwawasan Multikultural. BELAJEA Jurnal Pendidikan Islam, 32, 103. Amar, I. 2014. Studi Normatif Pendidikan Islam Multikultural. ISLAMICA Jurnal Studi Keislaman, 42, 320. Arif, M. 2017. Deradikalisasi Islam Melalui Pendidikan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal Pada Masyarakat Cigugur. AKADEMIKA Jurnal Pemikiran Islam, 221, 51. Arifin, Z. 2018. Pendidikan Islam Multikultural Upaya Menumbuhkan Kesadaran Multikultural. Al-Insyiroh Jurnal Studi Keislaman, 21, 38–56. Chin, C. 2019. The concept of belonging Critical, normative and multicultural. Ethnicities, 195, 715–739. Darmawan, D. 2019. Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia. Journal of Chemical Information and Modeling, 539, 1689–1699. Halidjah, & Siti. 2011. Pemberian Motivasi Untuk Meningkatkan Kegiatan Membaca Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Cakrawala Kependidikan, 91, 1–9. Hefni Zain. 2013. Pengembangan Pendidikan Islam Multikultural Berbasis Manajemen Sumber Daya Manusia. Tadrîs, 81, 108–124. Husmiaty Hasyim. 2015. Transformasi Pendidikan Islam Konteks Pendidikan Pondok Pesantren . Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta’lim, 131, 57–77. Ibrahim, B. 2019. Madrasah Transformation Into Modern Educational Institutions During The New Order. Istawa Jurnal Pendidikan Islam, 42, 196. EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 146 Ilham, D. 2020. Persoalan-Persoalan Pendidikan dalam Kajian Filsafat Pendidikan Islam. In DIDAKTIKA Vol. 9, Issue 2. Irawati, E., & Susetyo, W. 2017. Implementasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional di Blitar. Jurnal Supremasi, 71, 32–43. Lundeto, A. 2018. Menakar Akar-Akar Multikulturalisme Pendidikan di Indonesia. Jurnal Ilmiah Iqra’, 112. Muhadis Azzuhri. 2012. Konsep Multikulturalisme dan Pluralisme dalam Pendidikan Agama. Forum Tarbihyah, 109, 13–29. Mukhlis, A. 2017. Sejarah Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Nusantara Surau, Meunasah, Pesantren dan Madrasah . AL Iman Jurnal Keislaman Dan Kemasyarakatan, 101, 124–144. Muzakir, A. 2017. Transformasi Pendidikan Islam di Jambi dari Madrasah ke Pesantren. Islam Realitas Journal of Islamic & Social Studies, 31, 8. Muzakkir. 2017. Harmonisasi Tri Pusat Pendidikan Dalam Pengembangan Pendidikan Islam. Al-Ta’dib, 101, 145–162. Nadlir, M. 2016. Urgensi Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Pendidikan Agama Islam Journal of Islamic Education Studies, 22, 299. Prasetawati, E., & Asnawi, H. S. 2018. Wawasan Islam Nusantara; Pribumisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal di Indonesia. FIKRI Jurnal Kajian Agama, Sosial Dan Budaya, 31, 219. Samsuri, & Marzuki. 2016. Character building for multicultural citizenship within the curricular programs in madrasah aliyah, Yogyakarta. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 11, 24–32. EVALUASI, 5 1, Maret 2021, ISSN 2580-3387 print ISSN 2615-2886 online Homepage DOI 602 Article type Original Research Article 147 Subhan, F. 2016. KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MASA KINI. Jurnal Pendidikan Agama Islam Journal of Islamic Education Studies, 12, 353. Sujarweni, V. W. 2015. Metodologi Penelitian. Jakarta Rineka Cipta. Sya’adah, A., Saputra, B. A., Jannah, M., & Mahfud, C. 2019. Sejarah reformasi pendidikan Islam di Indonesia. Ta’dibuna Jurnal Pendidikan Islam, 81, 38. Wahyuddin, W., & Hanafi. 2017. Konsep Pendidikan Multikultural Dalam Perspektif Islam. PROCEEDING IAIN Batusangkar, 11, 721–744. Wardana, A. K. 2019. Peluang Lulusan Ponpes Lanjutkan Kuliah hingga ke Universitas Al Azhar, Ada Beasiswa Santri Kemenag. ... Selanjutnya, Afista, dkk, menunjukkan bahwa 1 landasan pembangunan pendidikan multikultural terdiri atas landasan agama, historis, psikologis, sosiokultural dan geografis; 2 strategi pengembangan pendidikan multikultural pada lembaga pendidikan Islam dapat ditempuh melalui dua pendekatan, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Sedangkan strategi pengembangan kualitatif adalah program studi intensif Al-Quran dan Sunnah Rosul, program revisi kurikulum, program diklat tenaga pendidik, dan program kearifan lokal Afista Y, Sumbulah U, 2021. ...MardiaMuhammad Mukhtar. SRohman RohmanMulticultural-based education is seen as important in responding to existing differences. The diversity of schools of law in fiqh and issues of khilafiyah often become internal debates among Muslims and often lead to divisions. This type of research is qualitative research, the data source is through documentation and resource persons, data collection techniques are through observation, documentation, and interviews. Data analysis techniques through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results show that 1 the dimensions of multicultural values in fiqh learning consist of curriculum dimensions, dimensions in teaching materials consist of values of tolerance, equality of rights, values of brotherhood, justice, and social ethics, 2 implementation of multicultural values in comparison of schools in fiqh learning, namely promoting the values of tolerance and not being fanatical, being inclusive, not discriminatory, teaching the background of the emergence of differences, ethics in responding to differences, and promoting the values of peace and unity, 3 the implications of multicultural values in fiqh learning, namely 1 implications in the domain of attitude affection which consists of awareness and cultural sensitivity, responsiveness to culture, and skills to avoid conflict, 2 domain of knowledge cognitive which consists of knowledge of the language and culture of people others, and the ability to analyze and translate cultural behavior and knowledge about cultural awareness. 3 the learning domain which consists of the ability to correct distortions, stereotypes, and misunderstandings about ethnic groups.... Culture is the result of human creation that gives birth to the living order of a group or a nation. This change makes all the problems related to socio-cultural ethics make it even more complex until finally we are required to deal with them prudently Afista et al., 2021. The development of the times led to modernization but did not forget its culture as we feel today there are positive results as well as negative because of its development that occurs in the world. ...Firman MansirReligious and socio-cultural education is inseparable in peoples lives. Educational cultural proximity to religion and socio-cultural development become two interrelated and mutually needy sides in solving social problems of society. This research shows that there is a relationship between religious and cultural education that is interrelated, giving birth to changes and responding to the rapid development of the times, thus ushering in a reality of religious life that is full of educational values without losing the local culture. The success of a nation can be seen and measured by the younger generation of its nation in the present and the future. Regarding religious education with culture, it is hoped that there will be the best results from a new generation and have potential with good quality, who can develop the knowledge they have and apply it well in the fabric of education, society, and culture. Thus, religious and socio-cultural education provides answers to various problems in the social development of budaya to religion in the context of educational institutions, be it in schools or madrasas. Pendidikan Agama Islam dan sosial budaya tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat. Pendekatan kultural edukatif terhadap agama dan perkembangan sosial budaya menjadi dua sisi yang saling terkait dan saling membutuhkan dalam memecahkan persoalan sosial masyarakat. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pendidikan Agama Islam dan budaya yang saling berkaitan, dengan melahirkan perubahan serta merespon berkembangnya zaman yang semakin pesat, sehingga mengantarkan pada sebuah kenyataan kehidupan beragama yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan tanpa menghilangkan budaya setempat. Berhasilnya suatu bangsa dapat dilihat serta diukur dari generasi muda bangsanya pada masa kini serta pada masa yang akan datang. Dalam hubungannya Pendidikan Agama Islam dengan budaya, sangat diharapkan adanya hasil terbaik dari generasi yang baru dan memiliki potensi dengan kualitas yang baik, yang mampu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan mengaplikasikannya dengan baik dalam jalinan pendidikan, sosial dan budaya. Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam dan sosial budaya memberi jawaban dari berbagai permasalahan dalam perkembangan sosial budaya terhadap agama dalam konteks lembaga pendidikan, baik itu di sekolah maupun madrasah. Dodi IlhamTulisan ini bertujuan untuk melihat berbagai persoalan-persoalan yang terjadi dalam membahas fisafat pendidikan Islam. Dalam tulisan ini akan membedah persoalan pendidikan pada aspek ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Persoalan ontologi pendidikan dalam kajian filsafat pendidikan Islam terbagi atas tiga persoalan pendidikan ber-Islam yakni mengupayakan pembimbingan, pendidikan dan pembinaan dalam mengenalkan Islam secara keseluruhan kepada peserta didik; pendidikan ber-Iman yakni mengupayakan totalitas ajaran Islam untuk ditanamkan kepada anak melalui keimanan kepada Allah swt dengan dasar-dasar iman, rukun Islam dan dasar-dasar syari’ah; dan pendidikan ber-Ihsan yakni menanamkan keyakinan suasana hati dan perilaku peserta didik untuk senantiasa merasa dekat dengan Tuhan sehingga tindakannya sesuai dengan aturan Allah swt. Persoalan epistemologi pendidikan dalam kajian filsafat pendidikan Islam adalah proses pendidikan dalam tataran sistem pendidikan Islam, yang ruang lingkupnya adalah tujuan pendidikan Islam, kurikulum pendidikan Islam, materi pendidikan Islam, metode pendidikan Islam, pendidik, peserta didik, sarana pendidikan Islam, alat pendidikan Islam, dan pendekatan pendidikan Islam. Persoalan aksiologi pendidikan dalam kajian filsafat pendidikan Islam menyangkut nilai-nilai tentang pendidikan Islam itu sendiri dengan maksud menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia, menjaga dan membina di dalam kepribadiannya baik yang bersifat spiritual maupun yang berwujud yang terbagi atas dua nilai utama yaitu nilai Ilahiyah dan nilai Insaniyah. Clayton ChinContemporary diversity politics is mobilized around debates on the effects of diversity on political community and cohesion. However, social and political theory are deeply divided on the relation between that diversity, liberal–democratic citizenship, multiculturalism and social cohesion. This article argues that a focus on the concept of belonging, which is often employed but rarely examined in detail, illustrates the critical–normative divide between social and political theory. Further, it argues that each has a partial account of belonging that fails to account for the multidimensional and complex nature of diverse belonging today. Instead, it sketches a theory of multicultural-belonging’, which unites the critical and normative approaches and offers key insights going forward in the analysis of diversity, citizenship and AlamDaflizar DaflizarWhich is prone to cause conflict, thus State Islamic Institute of Kerincias one of the stateuniversities feels obliged to include multicultural courses into its purpose of this study was to know the implementation of "Islamic Education with Multicultural Insights" at the State Islamic Institute ofKerinci. This research was a field research study, with the qualitative type. The main instruments were observation, in-depth interviews, and documentation. The findings of the study are That the State Islamic Institute ofKerincihas implemented Islamic education with multicultural insights through the lecture process, beginning with designing a syllabus that contains the strengthening of the theory, that God has created cultural diversity which is sunnatullah, rahmat, assets, strength, unifying tool that must be appreciated and thankful for, and that cultural diversity, peace and harmony have received a positive response from the students that they canapply in their daily life and even they are be able to be a massive pioneer in creating peace and harmony in society Muhamad ArifAbstrak Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks deradikalisasi Islam melalui pendidikan multikultural berbasis kearifan lokal. Untuk maksud tersebut, dilakukan penelitian mendalam pada masyarakat Cigugur. Penelitian menghasilkan temuan bahwa sikap toleran, saling menghargai, saling menghormati, dan bahkan saling bekerja sama yang tercipta dalam kehidupan masyarakat Cigugur yang multi agama dan multikultural didukung oleh aktualisasi pendidikan multikultural berbasis kearifan lokal yang mencakup tiga dimensi, yakni dimensi waktu, dimensi tempat, dan dimensi isi. Menurut dimensi waktu, pendidikan diselenggarakan dalam tiga fase, yakni sateuacan nitis sebelum nitis, sateuacan boboran sebelum lahir, dan saatosna boboran setelah lahir. Menurut dimensi tempat, masyarakat Cigugur menyelenggarakan pendidikan di lingkungan keluarga pendidikan informal, lingkungan sekolah pendidikan formal, dan lingkunganAli MuzakirTraditional Islamic education model does not only teach Islam but also provides practical knowledge for modern life. The desire is a great opportunity, because Islamic education in Indonesia has diverse backgrounds, systems, and nomenclature, such as madrassas, boarding schools, rangkang, meunasah, and surau. The model of madrasah education and pesantren seems to be the most viable pedestal. Particularly the pesantren system, rooted in Javanese tradition, is the most widely influenced model of Islamic education in Indonesia. This paper discusses the struggle of madrasah and pesantren in Jambi, with a social-historical approach. The focus of research on some of the most established madrassas in Jambi, which became the forerunner of other madrasah development in Jambi Province. The initial characteristics of Islamic education institutions in Jambi are madrasah. In practice, Madrasahs in Jambi have developed a model of traditional Islamic education, characterized by the study of yellow books, the figures of the master teachers kyai, students, and boarding schools. The characteristics are similar to the pesantren in Java; minus mosque. In the development, there is a sense of imbalance in responding to changes in the national education system, especially those projected by the Ministry of Religious Affairs. Model pendidikan Islam tradisional tidak hanya mengajarkan Islam tetapi juga membekali ilmu praktis untuk kehidupan modern. Keinginan tersebut menjadi peluang besar, karena pendidikan Islam di Indonesia memiliki latar belakang sejarah, sistem, dan nomenklatur yang beragam, seperti madrasah, pondok pesantren, rangkang, meunasah, dan surau. Model pendidikan madrasah dan pesantren tampaknya menjadi tumpuan yang paling viable. Terutama sistem pesantren, yang berakar pada tradisi Jawa, adalah paling luas mempengaruhi model pendidikan Islam di Indonesia. Tulisan ini membahas pergulatan madrasah dan pesantren di Kota Jambi, dengan pendekatan sejarah-sosial. Fokus penelitian pada beberapa madrasah yang didirikan di Kota Jambi, yang menjadi cikal-bakal pengembangan madrasah lainnya di Provinsi Jambi. Karakteristik awal lembaga pendidikan Islam di Jambi adalah madrasah. Dalam praktiknya, madrasah-madrasah di Jambi mengembangkan model pendidikan Islam tradisional, yang bercirikan kajian kitab kuning, figur tuan guru kyai, murid, dan pondok. Karakteristik tersebut mirip dengan pesantren di Jawa, tetapi minus masjid. Dalam perkembangannya, terjadi kegamangan dalam merespon perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan nasional, khususnya yang diproyeksikan oleh Kementerian Nadlirp>Tulisan ini mengurai pentingnya pembelajaran berbasis kearifan lokal di dalam dunia pendidikan. Pembelajaran di lembaga pendidikan terdiri atas berbagai materi ajar subject matter , dimana setiap materi tersebut sudah ditentukan target-target pembelajarannya. Tanpa mengganggu sama sekali setiap materi ajar tersebut, bahkan memperkuatnya, muatan kearifan lokal perlu dimasukkan. Apapun yang diterima peserta didik merupakan sebuah materi ajar, baik berupa teori, praktik, contoh-contoh soal maupun sikap pendidik itu sendiri. Menggambarkan secara jelas kekhasan materi ajar, ruang kelas, lingkungan pendidikan maupun buku-buku/ media pendidikan menjadi sebuah kebutuhan lembaga pendidikan agar dapat diterima efektif oleh peserta didik. Pengintegrasian akan efektif jika muatan kearifan lokal dapat masuk menjadi materi ajar pokok yang tidak sekedar asal dapat ditempelkan. Dalam Pendidikan Agama, misalnya, perlu dapat menjelaskan hukumnya berwirausaha, berbisnis, belajar, bercocok tanam, memanfaatkan lahan kosong di bawah tegakan tanaman, mengolah makanan secara alami tanpa pewarna maupun pengawet buatan, mensyukuri kekayaan hayati, dan lain-lain. Di dalam PKn perlu untuk menjelaskan posisi negara yang penuh hutang, perlunya membangun kemandirian ekonomi, perlunya mencintai hasil produksi dalam negeri maupun praduk lokal dan lain-lain. Materi ajar Bahasa Indonesia dapat mengarahkan kesadaran anak tentang kearifan lokal melalui pelajaran mengarang, membuat puisi ataupun membuat peribahasa dengan tema-tema lokal. Demikian pula pada IPA, IPS, Seni Budaya dan Ketrampilan, Pendidikan kesehatan, berbagai materi ajar dasar maupun pengembangan diri. The post-reform moral crisis shows that the achievement of moral competence processed at school has not been able to result the optimal output to the moral awareness generation development of nation. This condition such that begun from verbalistic growth culture from the learning process which inclines to only teach moral education as the textual limitation. That phenomenon and fact cause many sides conclude that the importance of character education implementation intensively as the essence of moral awareness generation development. This perspective places moral as the main environment aspect which decides generation characterization. Therefore, moral awareness should be learned intently and progressed or developed by character education applicatively. When the first time of implementation of character education in the school environment, it needs to do by the moral conditioning then continue to the moral training. The Design Character education like this has a function as systemic moral ideas in progressing the generation moral awareness which is able to supply young generation with moral intelligence competence and character. pendekatan kultural edukatif terhadap agama dan perkembangan sosial budaya